
JAKARTA, iDoPress - Sistem pengelolaan sampah di DKI Jakarta akan bertransformasi jelang penghentian mekanisme pembuatan sampah terbuka atau open dumping di TPST Bantargebang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengungkapkan kebijakan ini akan menjadi momen untuk merombak sistem penanganan sampah dari hulu ke hilir.
Dudi menyebut, pada tahap awal hingga akhir tahun 2026, fokus utama pemerintah adalah mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada, seperti TPS3R dan Refuse Derived Fuel (RDF).
"Berdasarkan roadmap, kalau melihat angkanya untuk akhir tahun ini kita ditargetkan untuk menyelesaikan di bawah 30 persen, jadi 30 persen dari total 9.000 ton sampah Jakarta itu sudah terkelola sendiri dan tidak perlu masuk TPA, tanda kutip bahwa itu sudah ramah lingkungan lah, sudah sesuai dengan kaidah lingkungan," jelas Dudi saat berbincang dengan iDoPress di Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Dudi pun menyebut roadmap ini disusun untuk menentukan target hingga tiga tahun ke depan.
Memasuki tahun 2027, target pengelolaan sampah di fasilitas diproyeksikan akan melonjak secara signifikan hingga mencapai 45,65 persen.
Pada tahun 2027, pemerintah juga menargetkan RDF di berbagai daerah mulai bisa beroperasi optimal dan sistem pengangkutan sampah di Jakarta mulai dilakukan penyesuaian.
"Nah memang nanti mungkin di 2026 belum signifikan, tapi saya harap di 2027 sudah ada beberapa daerah percontohan yang kita sudah bisa sentuh sampai ke door-to-door gitu, jadi kita bisa jemput sampah yang sudah terpilah," ucap Dudi.
Puncaknya pada tahun 2028, Pemprov DKI menargetkan sudah tidak ada lagi praktik open dumping di Jakarta dan seluruh sampah sudah berhasil diolah baik oleh rumah tangga maupun di fasilitas pemerintah.
Nantinya, 66,44 persen sampah warga Jakarta ditargetkan akan terolah habis di berbagai fasilitas, termasuk fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang diproyeksikan mulai beroperasi pada 2028.
Sementara itu, 33,56 persen sisanya akan dikirim ke Bantargebang sebagai sampah residu ke lahan sanitary landfill.
"Berikutnya di tahun 2028 itu targetnya sampah menjadi 100 persen. Jadi apa yang ada di Bantargebang itu nanti cuma yang ada di 33 persen ini dari total 9.000 ton sampah, residu-residu yang sudah tidak bisa terolah lagi, sisanya yang lain-lainnya itu masuk ke fasilitas. Di 2028 sudah harus seperti ini," ujar Dudi.
Dudi memaparkan berdasarkan perhitungan dan asumsi dari jumlah penduduk serta warga komuter dari luar daerah, total timbulan sampah DKI Jakarta saat ini mencapai 9.059 ton per hari.
Berdasarkan data Dinas LH pada kuartal kedua 2026, 72,56 persen sampah masih dibuang secara langsung atau open dumping ke Bantargebang.
Sementara, ada pula 19,85 persen sampah yang tidak terkumpul atau uncollected waste karena masuk ke TPS-TPS liar, dibakar, ataupun dibuang ke sungai.