Bepergian

Belajar Jadi Odysseus di Indonesia

Jul 29, 2026 IDOPRESS

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

BERBAGAI persoalan datang bertubi-tubi melanda dunia global dan nasional. Sebut misalnya, konflik geopolitik, cuaca ekstrem, bencana alam, dan disrupsi teknologi serta ketidakpastian ekonomi.

Persoalan tersebut masih menggerogoti dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, bagaimana kita harus menghadapi semua persoalan di tahun 2026?

Ketika dunia memasuki tahun 2026 dengan kecemasan kian menebal—konflik geopolitik yang berlarut, krisis iklim semakin ekstrem, serta disrupsi teknologi mengubah cara manusia bekerja dan berpikir—The Economist justru mengajak pembacanya menoleh ke kisah kuno: Odyssey karya Homer.

Pilihan ini terasa ironis sekaligus relevan. Sebab, seperti dicatat The Economist, “the defining feature of the coming years is not a single crisis, but a persistent state of uncertainty.”

Dunia tidak sedang menghadapi satu badai, melainkan hidup di laut yang terus bergelombang.

Odysseus adalah kisah perjalanan pulang yang panjang dan penuh penundaan. Odysseus membutuhkan sepuluh tahun untuk kembali ke Ithaka setelah Perang Troya.

Ia kehilangan kawan, menghadapi badai, tipu daya, dan godaan yang membuatnya nyaris lupa tujuan hidupnya sendiri.

Kepahlawanannya tidak terletak pada kemenangan spektakuler, melainkan pada kemampuan bertahan, berpikir, dan tetap setia pada tujuan.

Inilah tipe kepahlawanan yang terasa dekat dengan tantangan Indonesia menjelang 2026.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut kondisi dunia semacam ini sebagai modernitas cair: tatanan sosial yang berubah cepat, tidak stabil, dan penuh ketidakpastian.

Dalam kondisi cair, institusi kehilangan kepastian jangka panjang, identitas menjadi rapuh, dan individu dipaksa terus beradaptasi tanpa jaminan perlindungan.

Indonesia hidup sepenuhnya dalam kondisi ini. Perubahan kebijakan yang cepat, disrupsi digital, ketimpangan sosial, serta krisis ekologis memperlihatkan betapa cairnya fondasi kehidupan bersama.

Perubahan Cepat

Perubahan bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia dan institusi membangun kebiasaan dan kepastian. Indonesia hidup sepenuhnya dalam kondisi ini: kebijakan berubah cepat, teknologi melaju tanpa jeda, sementara masyarakat dipaksa terus menyesuaikan diri.

Dalam dunia yang cair, figur Odysseus menjadi metafora yang kuat.

Ia bukan pahlawan ala Achilles yang mengandalkan kekuatan frontal, melainkan pahlawan yang mengandalkan metis (bah. Yunani) - kecerdikan, kehati-hatian, dan kemampuan membaca situasi.