

JAKARTA, iDoPress - Musim kemarau yang lebih panjang dan kering akibat El Nino pada 2026 tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan, tetapi juga memperburuk kualitas udara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, akibat penumpukan polutan, El Nino dapat menyebabkan potensi ancaman kesehatan serius termasuk ISPA.
Kondisi tersebut juga memunculkan tantangan baru bagi masyarakat yang berolahraga di luar ruangan.
Di satu sisi, aktivitas fisik tetap penting untuk menjaga kebugaran. Di sisi lain, menghirup udara yang mengandung polutan dalam konsentrasi tinggi justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Lalu, masih amankah berolahraga di luar ruangan saat El Nino memperburuk kualitas udara?
Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyatakan masyarakat tidak perlu menghentikan kebiasaan berolahraga di luar ruangan hanya karena adanya peningkatan risiko polusi udara selama fenomena El Nino.
Ia menyampaikan, aktivitas fisik tetap menjadi salah satu cara penting untuk menjaga kesehatan, termasuk bagi masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta yang kerap memanfaatkan akhir pekan atau waktu pulang kerja untuk berolahraga.
Namun, ia mengingatkan olahraga sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas udara.
"Olahraga ini memang tetap sangat penting bagi kesehatan, tentu jangan dihentikan hanya karena adanya polusi. Tapi yang harus dilakukan adalah waktu, lokasi, dan intensitas olahraganya disesuaikan dengan kualitas udara," kata Dicky kepada iDoPress, Jumat (3/6/2026).
Dia menjelaskan, saat seseorang berolahraga, frekuensi dan volume pernapasan meningkat beberapa kali lipat dibandingkan saat beristirahat.
Kondisi tersebut membuat jumlah udara yang masuk ke paru-paru ikut bertambah, termasuk berbagai polutan seperti partikulat halus PM2.5, maupun nitrogen dioksida, apabila kualitas udara sedang buruk.
Karena itu, pada saat tingkat polusi udara tinggi, manfaat olahraga dapat berkurang karena tubuh justru menghirup lebih banyak zat pencemar.
Oleh karenanya, ia menyarankan masyarakat memilih waktu berolahraga ketika kualitas udara relatif lebih baik, bukan semata-mata saat suhu terasa sejuk.
"Pada kondisi polusi tinggi, manfaat olahraga bisa berkurang kalau dilakukan di daerah yang penuh polutan. Jadi pilih waktu dengan kualitas udara relatif lebih baik, jadi jangan hanya berdasarkan 'Ah, suhunya sejuk', ya tidak. Kadar polutannya itu yang harus dilihat," beber dia.
Selain memperhatikan waktu, Dicky mengingatkan masyarakat untuk cermat memilih lokasi berolahraga.