
JEDDAH, iDoPress - Pengelolaan hewan kurban dan dam oleh lembaga Adahi di Arab Saudi telah bertransformasi dari praktik tradisional menjadi operasi berskala raksasa dengan teknologi mutakhir.
Sistem yang kini digunakan jauh lebih higienis, efisien, dan distribusinya bisa sampai ke berbagai belahan dunia.
Perwakilan Humas Adahi, Talal Abdullah Al Harbi, yang menerima kunjungan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menceritakan kondisi di masa lampau.
Jauh sebelum Raja Fahd menginisiasi program ini pada 1403 H, tata kelola kurban di Arab Saudi belum diawasi ketat oleh pemerintah.
"Dahulu, marak pemotongan ilegal yang mengakibatkan banyak daging terbuang sia-sia atau membusuk karena tidak tertangani dengan baik," ungkap Talal.
Menandai era modern, sejak tahun 1447 H, seluruh mekanisme pembelian hewan telah diintegrasikan secara penuh ke dalam aplikasi Nusuk.
Masyarakat pun dapat menunaikan ibadah kurban hanya lewat ponsel pintar.
Beroperasi di atas lahan seluas hampir 1 juta meter persegi yang dilengkapi 7 lokasi penjagalan, Adahi memprioritaskan efisiensi tingkat tinggi.
Tahun ini, kapasitas operasional mereka menembus angka 1,2 juta ekor kambing, naik signifikan dari 1 juta ekor pada musim sebelumnya.
Kecepatan pemrosesannya pun sangat mengesankan.
"Kami mampu memproses satu ekor kambing hanya dalam waktu 7 detik. Tahun lalu, dalam satu jam pertama setelah salat Idul Adha, kami berhasil memproses 27.000 ekor," ungkap Talal.
Untuk menjaga presisi dalam skala masif ini, Adahi mengimplementasikan sistem yang sangat ketat.
Salah satunya menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghitung populasi hewan dan melakukan penimbangan dengan tingkat akurasi hingga 99 persen.
Kemudian pengawasan dilakukan selama 24 Jam. Terdapat 1.250 kamera pengawas (CCTV) yang aktif memonitor area pemotongan selama 84 jam (3,5 hari) penuh usai pelaksanaan salat Idul Adha.
Setiap hewan juga melewati dua fase pemeriksaan medis, yakni mulai dari negara asal dan setibanya di Jeddah.