Bepergian

Ancam Keselamatan Siswa, Tembok Rapuh Usai Kebakaran di Jakbar Belum Juga Dirobohkan

Apr 9, 2026 IDOPRESS
Tembok sisa kebakaran di Cengkareng retak dan miring, mengancam keselamatan ratusan siswa Sekolah Cendrawasih.

JAKARTA, iDoPress — Pihak Sekolah Cendrawasih Yayasan Pancaran Kasih di Cengkareng, Jakarta Barat, mendesak pemerintah segera merobohkan sisa tembok bangunan bengkel yang terbakar di sebelah sekolah mereka.

Pasalnya, kondisi tembok di Jalan Cendrawasih Raya tersebut kini retak, rapuh, miring, dan rawan ambruk ke area sekolah, sehingga mengancam keselamatan ratusan siswa.

"Kami kemarin sudah sampaikan sih supaya segera pihak terkait yang mempunyai wewenang itu untuk segera bisa merobohkan, supaya jangan sampai gedung itu ambruk, tertimpa aja kami. Makanya kami tunggu saat yang tepatnya untuk supaya bisa dibongkar," kata Michael, guru TK Cendrawasih Yayasan Pancaran Kasih saat ditemui iDoPress di lokasi, Kamis (9/4/2026).

Michael menjelaskan, kekhawatiran pihak sekolah dan orangtua murid muncul karena tembok bengkel tersebut sudah tidak utuh usai dilanda kebakaran hebat pada Jumat (3/4/2026).

Tembok sisa kebakaran yang rapuh itu tampak tinggal menunggu waktu untuk ambruk dan menimpa atap bangunan sekolah berlantai satu di bawahnya.

Rangka atap baja bengkel juga terlihat melengkung dan hancur berantakan.

Sebelumnya, saat kebakaran melahap bengkel tersebut, lantai dua dan tiga bangunan ambruk ke bawah.

Kini, hanya tersisa sebagian tembok yang berdiri tanpa penopang memadai.

Terlebih lagi, kompleks Yayasan Pancaran Kasih dan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) setiap hari ramai oleh aktivitas anak-anak dan jemaat.

"Ya jelas khawatir kami, namanya di sini kan sekolah, banyak anak-anak, sering ada yang ibadah juga di gereja. Bahaya kalau sewaktu-waktu itu bisa rubuh karena sudah rawan itu," ungkap Michael.

Michael juga menyebut, area gereja dan sekolah seolah mendapat mukjizat karena tidak terdampak langsung oleh kebakaran yang cukup parah tersebut.

"Kalau diperhatikan tapi memang ini seperti mujizat ini. Benar-benar separah itu tapi kami sekolah dan gereja tetap aman, benar-benar mujizat," ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah mengosongkan area yang berada tepat di bawah tembok miring tersebut.

Total ada empat ruang kelas di bagian belakang yang disterilkan dari aktivitas siswa, termasuk satu ruang kelas TK B yang plafonnya jebol tertimpa material beton saat kebakaran.

"Kami enggak gunakan dulu, ya untuk menjaga jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan gitu. Kita harus jaga-jaga kan, demi anak-anak," tuturnya.