Tech

Sukseskan Pembangunan Kawasan Transmigrasi, Kepala BMKG Bekali TEP 2026 dengan Karakter Iklim

Jul 28, 2026 IDOPRESS

iDoPress - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani membekali peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dengan pemahaman mengenai karakter iklim Indonesia sebagai bekal menyusun solusi pembangunan di kawasan transmigrasi.

Faisal mengatakan, setiap wilayah di Indonesia memiliki karakteristik iklim yang berbeda sehingga pendekatan pembangunan tidak dapat disamaratakan.

Menurutnya, kondisi musim dan geografis Indonesia sangat beragam. Ada wilayah yang mengalami satu musim hujan dan satu musim kemarau, ada yang memiliki dua puncak musim hujan, bahkan ada daerah yang hampir tidak mengenal musim kemarau.

"Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karena itu, kita perlu memahami kondisi iklim masing-masing wilayah agar dapat menentukan langkah pembangunan yang tepat," ujar Faisal dalam rilis pers yang diterima iDoPress, Selasa (28/7/2026).

Hal tersebut disampaikan Faisal di acara Pembekalan TEP 2026 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/7/02026).

Ia menjelaskan, pemahaman mengenai kondisi iklim menjadi bekal penting bagi peserta TEP yang akan diterjunkan ke berbagai kawasan transmigrasi.

Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan komoditas unggulan, pola tanam, mitigasi risiko bencana, hingga pengembangan potensi energi terbarukan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

TEP hadapi puncak musim kemarau

Faisal juga mengingatkan bahwa peserta TEP akan berangkat pada awal Agustus 2026, bertepatan dengan periode puncak musim kemarau di sekitar 60 persen wilayah Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau tahun ini lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

"Ini tantangan besar. Karena itu, diperlukan ekspedisi patriot untuk dapat melakukan sesuatu di daerah-daerah tersebut," kata Faisal.

Salah satu peserta TEP 2026, Ndaru Luriadi, menilai materi yang disampaikan Kepala BMKG memberikan perspektif baru mengenai pemanfaatan data meteorologi, klimatologi, dan geofisika dalam pembangunan.

Menurut Ndaru, data tersebut tidak hanya dibutuhkan ketika terjadi bencana, tetapi juga menjadi landasan dalam menganalisis kondisi wilayah dan merencanakan pembangunan kawasan transmigrasi.

"Materi ini sangat penting karena akan menjadi salah satu referensi dalam proses analisis kondisi wilayah di lokus penempatan," kata Ndaru.

Dia mengatakan, informasi dari BMKG membantu peserta memahami karakteristik lingkungan, mengantisipasi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, serta menyusun rekomendasi pembangunan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Lulusan Universitas Indonesia (UI) itu menilai pemahaman mengenai cuaca, musim, dan karakteristik iklim juga membantu peserta mengidentifikasi potensi serta risiko di wilayah penugasan.

Dengan pemahaman tersebut, rekomendasi pembangunan yang disusun diharapkan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

"Dengan begitu, rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada pengembangan ekonomi kawasan, tetapi juga mempertimbangkan aspek ketahanan dan keberlanjutan wilayah," ucap Ndaru.

Ndaru merupakan peserta TEP 2026 yang akan bertugas di Kawasan Transmigrasi Werianggi, Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Melalui pembekalan tersebut, BMKG berharap TEP 2026 dapat memanfaatkan data meteorologi, klimatologi, dan geofisika sebagai dasar penyusunan solusi pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang