
JAKARTA, iDoPress - Merespons perkelahian aparat China versus Filipina di atas lautan, Indonesia menyerukan kedua negara mengedepankan dialog damai dan diplomasi soal sengketa Laut China Selatan.
“Jadi kita Indonesia mendorong agar penyelesaian konflik di Laut China Selatan ini bisa diselesaikan secara damai melalui dialog, diplomasi, dan tentu berdasarkan pada hukum internasional termasuk UNCLOS,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Vahd Nabyl Achmad Mulachela, dalam jumpa pers di Kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Indonesia mendorong agar setiap konflik di Laut China Selatan diselesaikan secara dama sesuai Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).
Menurut dia, insiden tersebut justru menunjukkan pentingnya peran ASEAN dalam mengelola dinamika dan menjaga stabilitas di Laut China Selatan.
“Sebetulnya hal-hal seperti ini justru semakin memperjelas peran dan relevansi ASEAN dalam mengelola hubungan di Laut China Selatan,” jelas dia.
Dalam Pertemuan Ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers' Meeting/AMM) di Manila, Menteri Luar Negeri RI Sugiono mendorong agar perundingan Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan dapat diselesaikan secara efektif dan substantif pada tahun ini, serta mengacu pada hukum internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.
Aparat China versus Filipina berkelahi secara fisik dengan dayung dan tangan di atas laut pada Senin (20/7/2026).
Filipina menyebut kawasan itu sebagai Ayungin Shoal, adapun China menyebutnya sebagai Ren’ai Jiao dalam Laut China Selatan. Kawasan itu adalah wilayah sengketa dua negara.
Dilansir ANTARA, militer Filipina menuduh China melakukan agresi dengan menuding anggota Penjaga Pantai China telah memukul seorang anggota Angkatan Laut Filipina dengan tongkat kayu, hingga menyebabkan cedera fisik.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Filipina Maria Theresa Lazaro mengajukan protes keras kepada Menlu China Wang Yi atas “tindakan yang tidak dapat diterima” di wilayah sengketa Laut China Selatan.
"Saya bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela pertemuan ASEAN untuk diskusi terbuka tentang hubungan Filipina-China. Saya menegaskan kembali protes keras kami atas tindakan yang tidak dapat diterima terhadap personel Filipina di dekat Ayungin Shoal," tulis Lazaro di X, Rabu (22/7).
Penjaga Pantai China menanggapi dengan menuduh Filipina melakukan provokasi yang disengaja dan memutarbalikkan fakta, menyatakan bahwa sebuah kapal Filipina telah dengan sengaja menabrak kapal patroli China dan personel di atas kapal tersebut telah menyerang petugas Penjaga Pantai China dengan dayung dan tiang panjang.
iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang