


JAKARTA, iDoPress - Gurat senja di langit Jakarta Selatan mulai beranjak temaram ketika tiupan angin sore membawa puluhan layang-layang membubung tinggi di atas Flyover Kalibata, Pancoran, Jumat (22/5/2026).
Uus(47), pedagang minuman yang berjualan di sisi flyover, mengaku aktivitas bermain layang-layang membawa berkah tersendiri bagi dirinya.
“Kalau sore ramai yang main layangan, jualan saya juga ikut ramai. Banyak anak-anak sama orang tua beli minuman sambil nonton layangan,” ujar Uus saat ditemui iDoPress, Jumat.
Namun bagi Uus, yang paling terasa bukan hanya peningkatan omzet, melainkan suasana yang mengingatkan pada masa lalu.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Seorang pria bertopi merah tengah menarik benang layang-layang miliknya, flyover Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
“Dulu di kampung masih banyak lapangan. Sekarang sudah susah cari tempat. Jadi lihat anak-anak main layangan di sini itu ada rasa nostalgia,” kata dia.
Ia menuturkan, sejak sekitar dua tahun terakhir, area flyover mulai dipadati warga setiap sore.
“Dari habis jam empat (sore) sampai magrib itu penuh,” ujarnya.
Perasaan serupa juga dirasakan Kris (45), pedagang layang-layang di bawah flyover.
Ia menyebut permainan tradisional ini tetap diminati karena murah dan sederhana.
“Murah, tapi seru. Anak-anak bisa kumpul, orang tua juga ikut nonton. Di kota kayak sini, hiburan begini masih dicari,” kata Kris.
Di tengah keterbatasan ruang terbuka, Flyover Kalibata berubah menjadi ruang sosial informal.
Ivan (19), warga yang hampir setiap sore bermain di lokasi tersebut, mengaku sudah setahun terakhir menjadikan flyover sebagai tempat bermain layang-layang.
“Di sini anginnya enak, terbuka. Di sekitar sini sudah susah cari lapangan kosong,” kata Ivan saat ditemui.
Hal serupa disampaikan Raffi (16), yang mengaku hampir setiap akhir pekan datang setelah pulang sekolah.
“Kalau di gang rumah susah, banyak kabel. Di sini lebih luas,” ujarnya.