
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Sandro Gatra
SEORANG rekan yang bekerja di BNNP Jawa Barat mengirimkan saya beberapa foto barang bukti narkotika dengan ukuran gramasi kecil siap edar.
Barang itu didapat dari hasil penggerebekan di kampung tempat saya sekolah dasar pada tahun 1990-an, tepatnya di Dusun Cilempung, Desa Pasir Jaya, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat.
Di banyak kampung di Indonesia, ketakutan sering datang bukan dalam bentuk ledakan atau perang terbuka seperti yang dialami penduduk Gaza, Tepi Barat, Libanon Selatan, atau Iran.
Ketakutan hadir perlahan, masuk melalui lorong-lorong kecil, rumah kontrakan yang ramai pada malam hari, anak-anak muda yang mulai berubah, hingga warga yang tiba-tiba memilih diam ketika melihat sesuatu yang salah. Itu adalah wajah yang nyata terjadi di kampung saya dulu.
Kisah seorang guru ngaji di Deli Serdang menjadi salah satu potret kecil tentang bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan rasa takut itu.
Dalam berbagai sumber berita, guru ngaji tersebut dikabarkan berani melawan peredaran narkoba di lingkungannya hingga mendapat teror.
Cerita seperti itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia terus berulang di berbagai daerah dengan nama dan wajah yang berbeda.
Ada warga yang diancam karena melapor. Ada tokoh masyarakat yang dikucilkan karena dianggap mengganggu bisnis bandar.
Ada keluarga yang memilih pindah rumah karena merasa tidak lagi aman setelah menolak peredaran narkoba di lingkungannya.
Di balik semua itu, ada benang merah yang sama, yakni ketakutan yang perlahan menguasai kampung.
Ketika rasa takut mulai mengalahkan keberanian warga, lingkungan sosial sebenarnya sedang berada dalam keadaan berbahaya. Orang-orang tahu ada transaksi narkoba di sekitar mereka, tetapi memilih diam.
Mereka mengenal siapa pengedarnya, tetapi enggan berbicara. Mereka melihat anak-anak muda mulai terjerumus, tetapi merasa tidak punya daya untuk mencegahnya. Lama-kelamaan, masyarakat menjadi terbiasa hidup bersama ancaman.
Inilah wajah paling sunyi dari persoalan narkoba di Indonesia. Selama ini perhatian publik sering tertuju pada pengungkapan besar, penyitaan barang bukti, atau penangkapan bandar.
Padahal di tingkat paling bawah, ada kampung-kampung yang setiap hari sedang berjuang menghadapi ketakutan sosial yang tidak pernah benar-benar hilang.
Narkoba tidak hanya merusak tubuh manusia. Ia juga merusak keberanian sosial masyarakat, dan itu jauh lebih berbahaya karena pasar narkoba tiba-tiba eksis di mana-mana.