
JAKARTA, iDoPress - Wacana pemerintah merobohkan dan membangun ulang kawasan Hotel Sultan, Jakarta Pusat usai dieksekusi menuai respons dari para pekerjanya.
Wahyu (bukan nama sebenarnya), salah satu pekerja bagian dapur di Hotel Sultan, menilai rencana tersebut sebagai sebuah pemborosan anggaran negara di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit.
"Menurut saya sih nanti malah boros anggaran gitu, kalau misal dirobohin terus dibangun hotel baru lagi, duit lagi kan bangunnya, dan pasti lama," kata Wahyu saat ditemui di Posko Alih Kelola Blok 15 GBK, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).
Selain itu, pembangunan ulang juga dinilai akan memperpanjang masa pengangguran ratusan pekerja yang saat ini nasibnya sedang terkatung-katung.
Wahyu merasa khawatir dirinya dan rekan-rekan akan benar-benar kehilangan mata pencarian jika Hotel Sultan dirobohkan.
Padahal, sebelumnya beredar kabar di kalangan pekerja bahwa mereka akan kembali dikontrak ulang oleh Pusat Pengelolaan Kompleks GBK dalam waktu dekat.
"Tadinya sih info-info yang saya dengar, akhir tahun atau mentoknya sampai Januari itu sudah efektif lagi lah buka buat lagi tuh, enam bulan kan, soalnya ini kan mau dikosongin dulu. Kalau dibangun baru pasti lama," keluh Wahyu.
Sembari menanti ketidakpastian tersebut, Wahyu mengaku terpaksa harus memutar otak agar ekonomi keluarganya tetap berjalan.
Ia berencana membuka usaha kuliner kecil-kecilan bermodalkan kemampuannya di dapur hotel.
"Paling dagang sih, penginnya jualan saja dulu, masak sendiri saja sama istri yang enggak banyak (modalnya). Sebisanya, apa jajanan gitu paling ya," ungkapnya.
Kekecewaan senada diungkapkan oleh Windy (27), karyawan Hotel Sultan lainnya yang baru saja menyerahkan datanya ke Posko Alih Kelola Blok 15 GBK.
Menurutnya, jika pada akhirnya gedung tersebut dibongkar total, maka proses pendataan yang memakan waktu dan tenaga ini akan terasa sia-sia.
"Enggak setuju sih, soalnya sayang saja kan itu harusnya masih bisa buat kita kerja lagi mungkin gitu ya. Kalau misal ujungnya enggak bisa kerja lagi sayang saja gitu, ini proses administrasinya saja sudah ribet kan," keluh Windy.
Windy meminta pemerintah mengkaji ulang wacana tersebut dan mempertimbangkan kelangsungan hidup ratusan karyawan yang bisa menjadi pengangguran.
Ia sangat berharap pengelolaan Hotel Sultan hanya berganti manajemen tanpa harus dibongkar sepenuhnya.