
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
TAHUN Baru Islam 1448 Hijriah mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana kehidupan beragama dijalani di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Dalam sejarah manusia, kemajuan peradaban hampir selalu lahir dari kemampuan manusia untuk berdialog dengan pihak yang berbeda.
Sebaliknya, konflik dan kemunduran sering berawal dari ketidakmampuan menerima keberagaman.
Peradaban Islam pada masa keemasannya berkembang karena keterbukaannya terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa, budaya, dan tradisi.
Banyak karya filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi lahir dari proses perjumpaan yang panjang antara berbagai kelompok manusia.
Demikian pula Gereja Katolik dalam perjalanan sejarahnya terus belajar bahwa pewartaan iman dan pembangunan peradaban tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap martabat manusia dan keterbukaan terhadap dialog.
Akar dari kemajuan tersebut adalah kesadaran bahwa kebenaran tidak perlu dipertahankan dengan ketakutan.
Ketika identitas keagamaan dipahami secara matang, dialog tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkaya pemahaman tentang sesama.
Hingga lahirlah kerja sama yang menghasilkan pendidikan, ilmu pengetahuan, pelayanan sosial, dan perdamaian yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Indonesia sesungguhnya dibangun di atas semangat yang sama. Para pendiri bangsa menyadari bahwa negara ini tidak mungkin berdiri di atas dominasi satu kelompok karena keberagamannya merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Namun dalam praktiknya, perjalanan toleransi di Indonesia mengalami pasang surut.
Salah satu akar persoalan yang masih sering muncul adalah kecenderungan sebagian kelompok untuk memandang jumlah sebagai legitimasi moral dan politik.
Ketika suatu agama menjadi mayoritas di wilayah tertentu, muncul godaan untuk menjadikan preferensi kelompok tersebut sebagai standar bagi seluruh masyarakat.
Dari cara pandang inilah sering lahir kebijakan yang kurang sensitif terhadap keberadaan kelompok lain, mulai dari pembatasan aktivitas keagamaan, hambatan pendirian rumah ibadah, hingga tekanan sosial terhadap kelompok minoritas.
Penyebab utamanya bukan semata-mata perbedaan agama, melainkan minimnya ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling memahami pengalaman hidup satu sama lain.
Implikasinya, prasangka berkembang lebih cepat daripada pengertian, dan identitas keagamaan berubah menjadi alat pembeda yang menciptakan jarak sosial.
Pada titik inilah penting untuk memahami bahwa dialog bukanlah kegiatan seremonial yang hanya hidup di atas panggung-panggung acara.
Selama ini banyak forum kerukunan menghasilkan foto bersama yang indah, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan cara pandang di tingkat masyarakat.
Akar masalahnya adalah dialog sering berhenti pada elit agama, pejabat, atau tokoh masyarakat, sementara warga biasa tidak memiliki cukup ruang untuk mengalami perjumpaan yang nyata.
Padahal, toleransi yang kuat tidak dibangun melalui pidato, melainkan melalui pengalaman hidup bersama.
Ketika seorang Muslim dan Katolik menjadi tetangga yang saling membantu saat kesulitan, ketika pemuda lintas agama bekerja sama membersihkan lingkungan, atau ketika warga bergotong royong tanpa mempertanyakan latar belakang keyakinan, maka prasangka perlahan kehilangan tempatnya.
Dari dialog yang hidup di akar rumput adalah tumbuhnya kepercayaan sosial yang jauh lebih kuat daripada sekadar kesepakatan formal.
Sebaliknya, ketika masyarakat jarang berinteraksi, ruang kosong itu akan mudah diisi oleh stereotip, hoaks, dan provokasi yang memecah belah.
Karena itu, dialog yang sehat harus berjalan beriringan dengan identitas yang kuat.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa dialog mengharuskan seseorang mengurangi keyakinannya demi menyenangkan pihak lain.
Cara pandang ini lahir dari pemahaman yang keliru bahwa identitas dan keterbukaan adalah dua hal yang saling bertentangan. Padahal justru sebaliknya.