
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
HARI ini, 6 Juni 2026, bangsa Indonesia memperingati 125 tahun kelahiran Bung Karno.
Tepat satu abad seperempat yang lalu lahir seorang tokoh yang bukan hanya memimpin perjuangan kemerdekaan, tetapi juga merumuskan fondasi filosofis yang hingga hari ini menjadi dasar berdirinya Republik Indonesia.
Bung Karno tidak sekadar mewariskan sebuah negara. Ia mewariskan sebuah pandangan hidup, sebuah cita-cita kebangsaan, dan sebuah arah sejarah yang hingga kini masih menjadi medan perjuangan bangsa Indonesia.
Momentum ulang tahun Bung Karno tahun ini terasa istimewa sekaligus penuh ironi.
Di satu sisi Indonesia telah menjelma menjadi negara besar dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan salah satu kekuatan utama di dunia berkembang.
Namun di sisi lain bangsa ini sedang menghadapi berbagai tekanan yang tidak ringan. Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Indeks Harga Saham Gabungan bahkan sempat terperosok hingga sekitar 5.595 poin.
Ketidakpastian geopolitik global, perang dagang, konflik antarnegara, serta volatilitas pasar keuangan internasional menciptakan suasana yang penuh kegelisahan.
Di tengah situasi seperti itu, memperingati hari lahir Bung Karno tidak cukup hanya dengan mengenang jasa-jasanya.
Yang jauh lebih penting adalah merenungkan kembali apakah Indonesia masih berjalan di jalur yang dicita-citakan para pendiri bangsa.
Sebab pertaruhan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar soal pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, atau indeks pasar modal.
Pertaruhan sesungguhnya adalah apakah bangsa ini masih memiliki arah yang jelas dalam menghadapi tantangan zaman.
Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai merupakan salah satu dokumen politik paling penting dalam sejarah Indonesia.
Dalam pidato itulah lahir Pancasila sebagai dasar negara sekaligus Weltanschauung atau pandangan hidup bangsa.
Bung Karno memahami bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintahan.
Sebuah bangsa membutuhkan cita-cita bersama yang mampu menjadi kompas dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.
Karena itulah ia menawarkan Pancasila bukan sebagai slogan, melainkan sebagai dasar filosofis bagi Indonesia merdeka.
Dalam pidato tersebut Bung Karno juga memperingatkan bahaya sikap "zwaarwichtig", yaitu kecenderungan terlalu banyak berhitung, terlalu sibuk mencari kesempurnaan, dan akhirnya kehilangan keberanian untuk bertindak.
Menurutnya tidak ada bangsa yang menjadi besar karena menunggu semua persoalan selesai terlebih dahulu.
Kemerdekaan bagi Bung Karno hanyalah sebuah jembatan emas. "Kemerdekaan adalah jembatan emas. Di seberang jembatan itulah kita sempurnakan masyarakat kita." katanya
Kalimat tersebut merupakan salah satu gagasan paling penting dalam sejarah Indonesia.
Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu terciptanya masyarakat yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.
Delapan puluh tahun setelah Proklamasi, pertanyaan yang layak diajukan adalah sudah sejauh mana bangsa ini berjalan menyeberangi jembatan emas tersebut.