
JAKARTA, iDoPress - Perasaan resah selalu menggelayuti hati para pedagang plastik di pasar tradisional dalam beberapa bulan belakangan.
Selain karena harga plastik terus meroket tajam, mereka kini justru kesulitan mendapatkan stok barang.
Kesulitan mendapatkan stok barang membuat salah satu pedagang plastik di Pasar Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, bernama Nando (48) khawatir usahanya bangkrut.
"Khawatir lah bisnis saya terancam, harga naik tinggi, barang enggak ada. Kalau harga tinggi barang ada masih mending," kata dia saat ditemui iDoPress di tokonya, Senin (6/4/2026).
Nando mengatakan, biasanya ia selalu mendapatkan stok barang dari para sales plastik yang datang ke tokonya.
Ia tinggal mencatat jenis plastik yang ingin dipesan dan nantinya akan diantar oleh sales.
Sebelum harganya meroket, para sales plastik selalu memenuhi orderan barang Nando dengan mudah.
Namun kini, para sales hanya datang sekadar mengambil catatan orderan Nando tanpa bisa memastikan barang datang sesuai pesanan.
"Kita orderan banyak, barang datang sebagian aja, bahkan banyak sales yang jujur barang di gudang udah enggak ada," tutur Nando.
Nando menilai, terbatasnya stok plastik disebabkan konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran belum mereda.
Ditambah lagi Selat Hormuz yang menjadi tempat lalu-lalangnya kapal minyak masih ditutup. Padahal, bahan baku utama dari plastik adalah minyak, sehingga banyak pabrik plastik saat ini berhenti berproduksi.
Nando mengaku tak memiliki cara lain untuk menyiasati kenaikan harga plastik yang terjadi beberapa bulan belakangan.
Ia juga tak punya pilihan selain ikut menaikkan harga plastik yang dijualnya kepada para pembeli lantaran modal belanja kian mahal.
"Kita mana bisa mensiasatinya, naik ya naik, mana mungkin kita nombok. Kalau mau beli silahkan, enggak cari yang lain, mana tahu ada toko yang baik hati mau kasih harga murah karena cari pelanggan," tutur dia.
Namun, keputusannya menaikkan harga plastik menuai protes dari para pembeli dan membuat pelanggannya tak balik lagi untuk berbelanja dalam beberapa bulan belakangan.
Kehilangan pelanggan membuat omzet penjualannya menurun sekitar 20 hingga 30 persen.
Pedagang plastik lain, Ipang (22), juga mengaku tak memiliki siasat untuk mengatasi kenaikan harga plastik yang semakin parah.
Ia hanya bisa menaikkan harga jual agar tetap mendapat keuntungan dan usahanya terus berjalan.