
JAKARTA, iDoPress – Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) M44 mengaku terpaksa terlilit utang kepada rentenir untuk menutupi setoran harian kepada pemilik kendaraan, di tengah penurunan pendapatan yang mereka alami.
Salah seorang sopir M44, Walid, mengatakan kondisi tersebut mulai dirasakan sejak beroperasinya layanan JakLingko 48A yang disebut berdampak terhadap pemasukan para sopir angkot.
"Selama ada JakLingko, kita malah terlilit utang rentenir, karena buat nombokin setoran. Karena di M44 itu narik itu wajib. Mau hari libur, mau hari kerja, itu wajib," ujar Walid saat ditemui iDoPress di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Menurut Walid, pendapatan yang diperoleh para sopir kini terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional maupun kebutuhan sehari-hari.
"Rp 50.000 kadang-kadang juga nombok malah, kurang setoran. Sabtu minggu paling parah, Sabtu minggu nombok. Nombok bensin harus beli, enggak bisa makan," ungkap dia.
Keluhan serupa disampaikan sopir M44 lainnya, Darto. Ia mengatakan pendapatan sopir yang sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp 200.000 per hari kini turun drastis menjadi sekitar Rp 50.000 per hari.
"Ya tadi pendapatan kan zaman dulu kan Rp 200.000, sekarang Rp 50.000 aja terpaksa. Apalagi Sabtu-Minggu, bisa setor, enggak ngisi bensin, enggak bisa makan," jelas Darto kepada iDoPress, Kamis.
Sebelumnya, puluhan sopir angkot M44 menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Berdasarkan pantauan iDoPress di lokasi, para sopir yang berdemo merupakan pengemudi angkot M44 trayek Kampung Melayu-Tebet-Karet.
Puluhan sopir tersebut mengenakan kemeja berwarna biru dan berkumpul di depan Balai Kota DKI Jakarta. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan, "Jangan abaikan nasib ribuan supir angkot yang butuh kehidupan layak."
Spanduk tersebut dipasang menggunakan tali rafia yang diikat pada pagar Balai Kota DKI Jakarta.
Salah seorang sopir M44, Margani (45), mengatakan aksi tersebut dilakukan untuk meminta agar rute JakLingko 48A dikembalikan sesuai jalur awal berdasarkan hasil survei bersama JakLingko, M44, dan Dinas Perhubungan (Dishub).
"Ini demo untuk membelokkan JakLingko 48A ke jalur yang semestinya. Jalur awal yang pernah disurvei dengan rekan-rekan dari JakLingko dan M44 dan Dishub," jelas Margani.
Menurut dia, berdasarkan rencana awal, rute JakLingko 48A dari Stasiun Tebet seharusnya berbelok ke arah Semanggi lalu menuju kawasan permukiman.
Namun, dalam pelaksanaannya, armada tersebut justru melintasi jalur yang sama dengan angkot M44 dan sejumlah layanan transportasi lainnya.