Keuangan

Pakar Kesehatan: WC Tanpa Septic Tank di Jakarta Bisa Memperparah TBC-Polio

Jul 28, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Di tengah kemajuan Jakarta sebagai pusat kota, persoalan sanitasi yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat justru masih menjadi masalah besar yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Sebab, masih banyak pemukiman padat di Jakarta yang belum terfasilitasi sanitasi layak, karena terbatasnya lahan dan pembangunan septic tank pribadi membutuhkan biaya yang mahal.

Oleh karena itu, sebagian warga di pemukiman padat masih mengandalkan MCK umum untuk mandi, cuci, dan buang air.

Namun, ada juga warga yang nekat membangun WC di rumahnya, meski belum memiliki septic tank.

Hal tersebut membuat tinja dan limbah domestik lainnya langsung mengalir ke selokan atau kali di sekitar pemukiman padat tersebut.

MCK kebutuhan riil

Pakar Kesehatan dari Griffith University Australia dan Yarsi Dicky Budiman, sangat menyayangkan fasilitas sanitasi menjadi masalah yang belum teratasi di tengah status Jakarta menuju kota global.

"Data menunjukkan hanya sekitar dua persen air limbah di Jakarta yang mengalir ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) umum, yang biasanya hanya melayani gedung perkantoran dan perumahan elite," ucap Dicky ketika dihubungi iDoPress, Senin (27/7/2026).

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Kondisi MCK umum di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Jumat, (24/7/2026).

Sedangkan warga Jakarta yang sudah memiliki septic tank pribadi di rumahnya baru sekitar 39 persen.

20 persen lainnya masih menggunakan lubang WC biasa yang langsung mengalir ke sungai atau selokan.

Kondisi ini menunjukkan adanya celah besar bagi warga yang bergantung pada fasilitas di luar WC pribadi yang standar.

Oleh karena itu, Dicky menilai MCK komunal yang layak bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kebutuhan riil bagi masyarakat perkotaan.

Persentase BABS mengecil

Pakar Kesehatan itu mengatakan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, masih ada sekitar 0,06 persen rumah tangga di Jakarta yang melakukan praktik buang air besar sembarangan (BABS) di tempat terbuka.

"Meskipun persentasenya kecil, angka ini setara dengan 6.000 hingga 7.000 warga," ucap dia.

Di ibu kota seperti Jakarta, masih adanya ribuan orang yang BABS merupakan masalah struktural yang harus segera ditangani.

Di sisi lain, progres pembangunan infrastruktur sanitasi juga masih tertinggal dari target yang seharusnya 650 unit Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD), baru terealisasi sekitar 515 unit.