


JAKARTA, iDoPress- Di tengah ritme hidup perkotaan yang serba cepat, ikan cupang masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian warga Jakarta.
Ikan kecil dengan warna mencolok dan sirip yang mengembang itu tak lagi sekadar dianggap hewan peliharaan biasa, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup, hiburan, hingga sarana belajar bagi anak-anak.
Meski toko ikan hias modern bermunculan dan marketplace menawarkan berbagai jenis cupang hanya lewat layar ponsel, minat warga untuk membeli ikan hias ini tetap tinggi.
Bahkan, pedagang cupang keliling masih mudah ditemui menyusuri gang-gang permukiman, membawa deretan botol plastik kecil berisi ikan warna-warni yang menarik perhatian warga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cupang bukan sekadar tren sesaat.
Di tengah keterbatasan ruang hidup di kota besar, ikan cupang menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi bernilai: keindahan, ketenangan, dan kemudahan perawatan.
Ayu (37), seorang ibu rumah tangga di kawasan Pejaten, menjadi salah satu warga yang masih tertarik membeli cupang.
Awalnya, keputusan itu datang spontan saat anaknya melihat pedagang keliling lewat di depan rumah.
Botol-botol kecil berisi ikan berwarna terang membuat anaknya langsung terpikat.
Menurut Ayu, awalnya ia hanya ingin memenuhi rasa penasaran sang anak. Namun setelah ikan itu dipelihara di rumah, ia melihat ada manfaat lain yang tidak ia duga sebelumnya.
Cupang ternyata menjadi media belajar yang sederhana bagi anak.
Anaknya mulai belajar memberi makan, menjaga kebersihan air, dan memahami bahwa makhluk hidup membutuhkan perhatian.
“Buat saya ini bukan cuma beli ikan. Anak jadi belajar tanggung jawab. Hal kecil seperti kasih makan atau ganti air itu penting buat anak,” ujar Ayu saat ditemui iDoPress, Rabu (1/7/2026).
Selain nilai edukasi, Ayu menilai cupang cocok untuk keluarga yang tinggal di lingkungan perkotaan dengan ruang terbatas. Tidak membutuhkan akuarium besar, tetapi tetap memberi kesan estetis di rumah.
Hal serupa dirasakan Fikri (30), seorang karyawan swasta di kawasan Kalibata. Ia membeli cupang untuk anak laki-lakinya yang berusia enam tahun.
Bagi Fikri, keputusan membeli cupang berangkat dari kekhawatiran akan kebiasaan anak yang terlalu sering bermain gadget.
Ia dan istrinya mulai mencari aktivitas lain yang bisa dilakukan anak di rumah.
Cupang kemudian menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.
Selain mudah dirawat, ikan ini juga tidak membutuhkan banyak ruang, sesuatu yang penting bagi keluarga yang tinggal di apartemen.
“Sekarang anak kecil gampang kecanduan layar. Jadi kami cari alternatif aktivitas yang lebih sehat. Cupang simple, enggak ribet,” kata Fikri.
Menurutnya, ada nilai relaksasi yang juga didapat dari memelihara cupang.
Gerakannya yang tenang dan warna tubuhnya yang mencolok memberi efek visual yang menenangkan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa minat warga terhadap cupang tidak hanya didorong oleh hobi, tetapi juga kebutuhan psikologis, edukasi, hingga estetika rumah.
Permintaan yang terus hidup inilah yang menjadi ruang bagi para pedagang cupang keliling untuk bertahan.

Shutterstock/panpilai paipa Ilustrasi ikan cupang.
Di balik tingginya minat warga, ada pedagang yang menggantungkan hidup dari bisnis kecil ini.
Wandi (47), pedagang cupang keliling di kawasan Ragunan, sudah delapan tahun menjajakan ikan hias dari gang ke gang.