
JAKARTA, iDoPress – Alarm kesiagaan bagi pasukan yang dipimpin AKBP (Purn) Soerito berbunyi jauh sebelum matahari terbit saat bertugas dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada 1975.
Bukan tanpa alasan, ia menyebut pasukan Fretilin, organisasi perlawanan bersenjata yang memperjuangkan kemerdekaan Timor Timur, kerap melancarkan serangan menjelang fajar sehingga seluruh personelnya sudah harus siap bertempur sejak pukul 04.00.
Kisah tersebut disampaikan Soerito dalam program Brigade Podcast yang tayang di kanal YouTube iDoPress, dikutip pada Rabu (1/7/2026).
"Saya bilang, ini Fretilin, dia kalau bertempur serangan fajar. Jadi kita jam 4 itu harus sudah bangun, kemudian senjata isi, lalu duduki pos. Itu posisinya di ketinggian, jadi kalau diserang saya sudah di atas," ujar Soerito.
Saat itu, Soerito dipercaya memimpin satu peleton yang beranggotakan sekitar 30 personel.
Dengan pangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu), ia diterjunkan ke sejumlah wilayah operasi di Timor Timur untuk menjalankan misi bersama pasukan Brimob lainnya.
Pola serangan Fretilin yang sering dilakukan saat fajar membuatnya memilih mengubah pola penjagaan.
Seluruh anggota peleton diminta bangun lebih awal, mengisi amunisi, lalu menempati posisi yang lebih tinggi sebelum matahari terbit.
Strategi itu terbukti efektif ketika pasukan Fretilin benar-benar melancarkan serangan. Saat lawan menyerbu, pasukannya sudah lebih dulu berada di posisi yang menguntungkan.
"Betul, tiba-tiba diserang. Tapi saya kan sudah ada di atas. Sudah, komando saya," katanya.
Setelah serangan berhasil dihadapi, Soerito baru memerintahkan anak buahnya turun ke pos.
Namun, saat malam tiba, mereka kembali berjaga di lokasi yang lebih tinggi agar tidak menjadi sasaran serangan mendadak.
"Malamnya kita duduk di atas lagi, jangan sampai kita tidur, diserang. Betul, saat diserang, pos kita sudah kosong, karena kami sudah di atas. Alhamdulillah dibantu sama Tropaz yang sudah menyerah ke kita," ujarnya.
Dalam operasi tersebut pasukan Soerito turut mendapat bantuan dari sejumlah anggota Tropaz, pasukan militer kolonial Portugis di Timor Timur, yang kemudian memilih bergabung dengan Indonesia.
Salah satu sosok yang diingatnya adalah Imanuel, mantan anggota pasukan inti Fretilin yang kemudian berbalik mendukung Indonesia bersama beberapa anggotanya.