



JAKARTA, iDoPress -Deru kendaraan bercampur suara klakson bersahut-sahutan terdengar hampir tanpa jeda di sepanjang Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.
Di bawah rindangnya pepohonan jalan, papan bertuliskan “CAT DUCO MOBIL MOTOR”, “LAS KETOK”, hingga “CAT DUCO BARET PENYOK” berdiri mencolok di tepi trotoar.
Cat duco adalah teknik pengecatan dengan hasil akhir mengilap dan cepat kering yang umum digunakan untuk bodi kendaraan, di antaranya mobil dan motor, maupun furnitur.
Jasa ini biasanya diburu untuk menutupi baret, lecet, hingga penyok agar tampilan kendaraan kembali terlihat seperti baru.
Aroma cat, tiner, dan asap kendaraan bercampur menyelimuti udara. Pemandangan jasa cat duco pinggir jalan itu bukan hal baru di Jakarta.
Di ruas Salemba, Kramat Raya, hingga Matraman, para pekerja cat duco telah bertahan puluhan tahun di tengah kerasnya persaingan dan penertiban aparat.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Papan bertuliskan ?Cat Duco Mobil Motor? dipasang di pinggir jalan kawasan Matraman, Jakarta Timur, Rabu (13/5/2026).
“Ya karena buat cari makan. Usia juga sudah segini. Jadi dijalani saja yang penting halal,” ujar Maman (50), pelaku jasa cat duco pinggir jalan di wilayah Salemba Raya saat ditemui iDoPress, Rabu (13/5/2026).
Hampir tiga dekade Maman menjalani pekerjaan itu. Sejak pagi hingga sore, ia berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan jasa perbaikan baret dan penyok kendaraan kepada pengendara yang melintas.
“Ya sehari-hari begini saja, manggil pelanggan,” kata Maman.
Jika ada pelanggan yang tertarik, kendaraan akan diarahkan ke bengkel rekanan di dalam gang permukiman sekitar Salemba.
Menurut Maman, proses pengecatan tidak dilakukan di tepi jalan, melainkan di bengkel yang lebih aman untuk bekerja.
“Iya, masuk ke dalam kampung. Kalau kerja di dalam lebih aman,” ujar dia.
Maman mengaku sudah bekerja di bidang tersebut sejak 1996. Bahkan, sebelum itu ia sudah belajar mengecat kendaraan sejak kecil.
Pasalnya, ia tumbuh di lingkungan bengkel dan terbiasa bekerja sejak usia muda.
Ia memulai pekerjaan dari bawah, mulai dari mengampelas bodi kendaraan, mendempul, hingga akhirnya belajar menyemprot cat.
Pengalaman tersebut membuatnya sempat bekerja di bengkel besar.
“Belajar langsung di bengkel. Dari amplas, dempul, sampai ngecat. Saya juga pernah kerja di bengkel besar, termasuk Toyota,” kata Maman.
Berbeda dengan anggapan sebagian orang, Maman mengatakan dirinya bukan sekadar pencari pelanggan di jalan. Ia juga menguasai pekerjaan pengecatan kendaraan.
“Bukan. Saya juga tukang catnya,” ujar dia.
Meski telah puluhan tahun bekerja, kehidupan Maman jauh dari kata mapan. Pendapatannya tidak menentu karena bergantung pada jumlah pelanggan harian.
Jika sedang ramai, ia bisa membawa pulang penghasilan yang cukup. Namun ketika sepi, ia harus bertahan tanpa pemasukan selama beberapa hari.
“Kalau karyawan kan kerja atau enggak tetap digaji. Kalau kita harus cari sendiri dulu baru ada uang,” kata Maman.
Ia mengaku pernah mengalami masa-masa sulit ketika pelanggan sangat sepi. Karena itu, ia harus pandai mengatur keuangan.
Tarif jasa cat duco pinggir jalan pun sangat fleksibel. Menurut Maman, harga ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan kendaraan dan hasil negosiasi dengan pelanggan.
“Misalnya baret kecil bisa sekitar Rp 400.000 ke atas,” ujar dia.
Tidak seperti bengkel resmi yang memiliki standar tarif tetap, jasa cat duco pinggir jalan bisa disesuaikan.
“Kalau bengkel besar kan harga sudah pasti. Kalau kita menyesuaikan kemampuan pelanggan juga,” kata dia.
Maman mengatakan fenomena jasa cat duco pinggir jalan sebenarnya sudah ada sejak lama.
Bahkan menurut dia, jasa semacam itu telah berkembang sejak era 1970-an dan semakin ramai setelah krisis ekonomi 1998.
“Awalnya banyak di Kramat 2. Pas zaman krisis ekonomi 1998 makin banyak orang turun ke jalan cari kerja begini,” tutur Maman.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Tangan pekerja jasa cat duco dipenuhi noda cat dan dempul setelah seharian bekerja memperbaiki bodi kendaraan di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Kini jumlah pelaku jasa cat duco di wilayah Salemba dan sekitarnya terus bertambah.