
JAKARTA, iDoPress — Pasar Santa di Jakarta Selatan tak lagi seramai dulu. Di saat kawasan Blok M kembali bangkit dan menjadi magnet baru anak muda, denyut Pasar Santa justru melambat.
Di balik perubahan ini, para pedagang melihat ada “masalah tersembunyi” yang perlahan membuat pengunjung pergi—bukan sekadar soal tren, tetapi perubahan cara orang menikmati ruang dan waktu.
Fathan (27), pemilik kedai kopi di lantai dua yang sudah berjualan sejak 2016, masih mengingat masa ketika Pasar Santa berada di puncak kejayaannya sebagai creative hub anak muda.
“Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang,” kata Fathan saat ditemui iDoPress, Selasa (21/4/2026).
Namun, situasi itu kini berubah drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, omzetnya turun tajam seiring berkurangnya pengunjung dan berubahnya perilaku mereka.
“Sekarang rata-rata harian itu di Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujar dia.
Menurut Fathan, masalahnya tidak sesederhana jumlah pengunjung yang menurun. Ia melihat ada pergeseran pola datang dan bertahan di dalam ruang.
“Sekarang orang datang lebih cepat, tidak lama duduk. Jadi turnover juga beda. Dulu bisa nongkrong lama, sekarang cepat datang cepat pergi,” jelas dia.
Ia menilai Pasar Santa mulai kehilangan daya tarik utamanya ketika kota menawarkan terlalu banyak alternatif yang lebih modern dan konsisten secara konsep.
“Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mal baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya,” tutur dia.
Selain itu, ia melihat identitas Pasar Santa yang dulu kuat kini semakin kabur. Tenant yang dahulu dikurasi dengan konsep jelas kini terasa campur aduk.
“Dulu konsepnya jelas—kopi, vinyl, thrift, zine. Sekarang sudah tidak sekuat itu,” ucap Fathan.
Ia juga menyinggung peran media sosial yang dulu mengangkat Pasar Santa, namun kini justru membuat tren cepat berpindah.
“Dulu viralnya kuat. Sekarang viral pindah-pindah. Ada tempat baru, semua pindah ke sana,” kata dia.
Hal serupa dirasakan Theo (28), pedagang thrift yang membuka kios sejak 2017. Ia menyebut penurunan terjadi perlahan, namun konsisten.
“Dulu itu saya bisa dapat Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta sehari, terutama kalau weekend,” kata Theo.
Kini, omzetnya jauh menurun.
“Sekarang kadang Rp 200.000 sampai Rp 400.000 sehari sudah bagus. Bahkan pernah juga cuma Rp 100.000 lebih,” ujar dia.
Menurut Theo, perubahan perilaku belanja menjadi salah satu faktor besar. Thrift yang dulu mengandalkan pengalaman berburu langsung kini banyak berpindah ke platform digital.
“Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar,” ujar dia.
Namun, ia menekankan bahwa masalah utama bukan hanya soal online versus offline, melainkan hilangnya alasan kuat untuk datang.