budaya

Dua Wajah Bantargebang

Aug 5, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress – Bantargebang tak lagi hanya bercerita tentang gunungan sampah. Kawasan ini kini menjadi potret dua kepentingan yang bertemu dalam satu ruang yakni upaya memperbaiki lingkungan dan perjuangan ribuan warga mempertahankan penghidupan dari sampah yang perlahan mulai berkurang.

Di satu sisi, pemerintah mulai menjalankan transformasi besar pengelolaan sampah dengan menghentikan praktik open dumping di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sejak 1 Agustus 2026.

Kebijakan itu menjadi bagian dari agenda nasional untuk mengakhiri pembuangan sampah secara terbuka dan mengubah sistem menuju pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.

Namun di sisi lain, perubahan tersebut menghadirkan kegelisahan di Kampung Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi.

Bagi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari aktivitas memulung, berkurangnya sampah yang masuk berarti berkurang pula peluang untuk mencari nafkah.

Bau sampah yang menyengat masih menjadi aroma pertama yang menyambut siapa pun yang memasuki deretan gubuk di kampung itu.

Di balik gang sempit yang dipenuhi tumpukan plastik, botol, dan karung bekas, warga tetap sibuk memilah limbah yang baru datang.

Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang, sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber penghidupan.

Transisi besar pengelolaan sampah

Di salah satu sudut kampung, Saridah (75) masih tekun menjahit karung bekas hasil pulungan para pemulung.

Meski penglihatannya mulai kabur dan tenaganya tak lagi sekuat dulu, perempuan yang telah tinggal lebih dari 30 tahun di Bantargebang itu tetap bekerja agar dapur keluarganya tetap mengepul.

"Kalau sekarang kesibukannya ini bikin karung, jahit karung," kata Saridah kepada iDoPress di Kampung Ciketing Udik, Selasa (4/8/2026).

Perubahan mulai terasa ketika volume sampah yang masuk ke Bantargebang berkurang.

Semakin sedikit truk yang datang, semakin sedikit pula barang yang bisa dipulung.

Andi (32), pemulung sekaligus pengelola lapak plastik, mengatakan pendapatan para pemulung turun drastis dalam beberapa bulan terakhir.

iDoPress/Wildan Alghofari Perugas TOST Bantergebang sedang menutup gunungan sampah dengan geomembran

"Kalau sekarang cuma Rp 70.000-Rp 85.000 per hari. Bahkan ada yang cuma Rp 45.000-Rp 50.000 gara-gara memang volume sampah yang masuk ke sini sudah berkurang," ujar Andi.