budaya

Di Pelican Crossing Jakarta, Lampu Hijau Belum Tentu Aman bagi Pejalan Kaki

Aug 4, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Lampu penyeberangan di pelican crossing, fasilitas penyeberangan yang dilengkapi tombol dan lampu lalu lintas untuk memberi prioritas kepada pejalan kaki, berubah hijau.

Satu per satu orang mulai melangkah di atas zebra cross setelah menekan tombol penyeberangan beberapa detik sebelumnya. Namun, rasa aman yang semestinya hadir belum sepenuhnya dirasakan.

Di sejumlah pelican crossing di Jakarta, masih ada pengendara yang tetap melaju meski lampu telah memberi hak prioritas kepada pejalan kaki.

Pemandangan itu masih dijumpai iDoPress saat mengamati pelican crossing di Halte TransJakarta Balai Kota, Bundaran Hotel Indonesia (HI), dan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).

Bagi Aulia (27), karyawan swasta yang hampir setiap hari menggunakan pelican crossing di Stasiun Cikini, fasilitas tersebut membuat aktivitas menyeberang jadi lebih mudah.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah pejalan kaki menyeberang saat lampu pelican crossing menyala hijau di Halte TransJakarta Balai Kota, Jakarta Pusat, sementara dua pengendara sepeda motor masih menerobos area penyeberangan, Jumat (31/7/2026).

"Sangat membantu (pelican crossing). Sebelum ada lampu penyeberangan saya harus menunggu kendaraan sepi dulu. Sekarang tinggal pencet tombol lalu menunggu lampunya merah," ujar Aulia saat ditemui iDoPress usai menyeberang ke arah Stasiun Cikini, Jumat.

Meski demikian, Aulia mengaku lampu hijau bagi pejalan kaki belum otomatis membuatnya merasa aman.

Karena itu, ia mengaku selalu memastikan seluruh kendaraan benar-benar berhenti sebelum mulai berjalan.

"Jadi walaupun lampu sudah hijau buat pejalan kaki, saya tetap lihat kanan kiri dulu. Takut ada kendaraan yang tiba-tiba menerobos," ujar dia.

Aulia berharap pemerintah memasang kamera pengawas maupun tilang elektronik di pelican crossing.

"Harus ada kamera atau tilang elektronik. Kalau cuma mengandalkan kesadaran, masih banyak yang melanggar,” tutur dia.

Pengalaman serupa dialami Geri (34), pegawai BUMN yang hampir setiap hari menggunakan pelican crossing Halte TransJakarta Balai Kota.

Menurut Geri, keberadaan pelican crossing memang membuat proses menyeberang jauh lebih aman dibanding harus menerobos sendiri di sela kendaraan.

Namun, ia pernah mengalami kejadian yang membuatnya enggan langsung percaya pada lampu penyeberangan.

"Waktu itu saya sudah di tengah zebra cross, tiba-tiba ada motor yang tetap jalan. Untung saya berhenti dulu," kata Geri saat ditemui.

Baginya, penegakan hukum masih menjadi persoalan utama.

"Kalau ada CCTV dan tilang elektronik mungkin orang jadi lebih patuh," ujarnya.

Sementara itu, Enna (48), pedagang yang hampir setiap hari menggunakan pelican crossing Stasiun Cikini, mengatakan dirinya tetap berhati-hati setiap kali menyeberang.

"Lebih aman daripada nyebrang sembarangan. Tapi tetap harus hati-hati," kata Erna.