

JAKARTA, iDoPress - Setiap matahari belum benar-benar terbit, para penjaga MCK umum di Jakarta sudah memulai aktivitasnya.
Mereka mulai membuka pintu-pintu MCK umum, menguras baknya, menyapu lantai untuk memastikan setiap sudut bersih dan tak licin, sebelum warga berdatangan untuk mandi, mencuci, atau buang air.
Rutinitas tersebut mereka lakukan setiap hari, tanpa ada hari libur.
Para penjaga MCK umum biasanya akan pulang ke kampung halaman di Tasik, Jawa Barat, setiap tiga bulan sekali atau di hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
Warga asal Tasik, Jawa Barat, Encang (55), sudah dua tahun lamanya bekerja sebagai penjaga MCK umum di kawasan Kampung Bandan, Jakarta Utara.
Sebelum merantau di Kampung Bandan, Encang juga bekerja sebagai MCK umum di kawasan Bandung, Jawa Barat.
Ia mengatakan, MCK yang dijaganya merupakan milik perorangan yang merupakan warga Tasik juga.
Oleh karena itu, ia dipercaya untuk menjaga salah satu MCK milik bosnya yang ada di Jakarta.
Tugas Encang setiap hari adalah membersihkan dan mengisi air di tujuh pintu kamar mandi yang berada di dalam MCK umum tersebut.
Pekerjaannya memang terlihat ringan, namun sebenarnya sangat melelahkan.
Di usianya yang tak lagi muda, menyikat lantai kamar mandi dan mengisi air ke dalam bak merupakan pekerjaan yang cukup berat untuknya.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Penjaga MCK umum di Jakarta bernama Encang (55). Jumat, (24/7/2026).
Namun, hal itu tetap harus dijalani, karena merasa sulit mencari pekerjaan lainnya.
"Ya, kalau ada mah pengin pekerjaan lain, cuma enggak ada sudah tua kayak gini mau masuk ke mana atuh? Sudah umur 55 itu. Kerja paling masuk bangunan," tutur dia ketika diwawancarai iDoPress di lokasi, Jumat (24/7/2026).
Baginya, bekerja sebagai kuli bangunan lebih melelahkan dan berisiko tinggi, meski penghasilannya jauh lebih besar.
Encang mengatakan, seiring berjalannya waktu pengguna MCK umum di kawasan tersebut mulai berkurang.
Jika dulu hampir setiap menitnya Encang menerima uang dari warga yang menggunakan MCK, kini justru lebih banyak menganggur.
Pria asal Tasik itu bilang, banyak warga yang tak lagi menggunakan MCK, karena sudah memiliki toilet pribadi di rumahnya, meski tak memiliki septictank.
Warga nekat membuat WC di dalam rumah setelah mereka membangun kembali tempat tinggalnya usai terbakar di tahun 2019.
Dulu, kata Encang, penghasilan kotor menjaga MCK-nya sehari sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000.