
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
DALAM Kitab Mazmur 90:10 tertulis "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."
Apabila diibaratkan seperti manusia, negara Indonesia sekarang sudah melewati batas umum usia manusia.
Bahkan sudah satu angka lebih dari usia yang dicapai "jika kuat", yaitu 81 tahun.
Pernyataan ini, bukanlah aturan tetap tentang umur panjang. Ada pengakuan kerendahan hati, umur tetaplah singkat.
Rentang kehidupan dimaksudkan untuk dijalani secara bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Sifat kehidupan fana menggarisbawahi kebutuhan untuk menjalani setiap waktu kehidupan dengan hal baik-benar-bertanggung jawab, agar semua usaha tidak menjadi sia-sia.
Maka, pemazmur melanjutkan nasihatnya agar kehidupan yang panjang selalu berada dalam norma takut akan Tuhan (ayat 11) dan bijaksana (ayat 12).
Sungguh indah nilai-nilai teologis di balik angka "81" dari perspektif Kristen, terutama tentang usia yang menjadi anugerah Tuhan.
Belum lagi, kalau angka itu dimaknai secara kontekstual oleh Fajar Novario, pemenang logo HUT RI, yang memberi nilai kolektif dan gotong royong, sinergi dan koneksi membangun negeri, serta keberlanjutan proses bertumbuh menuju satu tujuan bersama.
Fajar melihat bahwa secara filosofis, angka "81" mengandung keberagaman motif Nusantara. Filosofi ini sangat kaya, sebab Indonesia juga kaya.
Makna kemerdekaan yang berkelindan dengan nilai filosofis memperkuat harapan yang masih harus tetap diperjuangkan.
Di dalam nilai kolektif, setiap orang (warga) tidak boleh ditinggalkan; sinergi, kekuatan bangsa tidak boleh dibangun dengan penyingkiran; dan bertumbuh, seluruh kehidupan ditancapkan pada nilai-nilai kebaikan umum (bonum communae).
Namun, seperti yang belakangan ini terjadi di Indonesia, orang-orang bertanya, "Apakah kita sungguh sudah bertumbuh bersama di usia negara yang semakin tua ini?"
Bangsa ini memang sedang merayakan kemerdekaan. Namun, kita mesti mengakui dengan rendah hati dan kritis, bahwa "kemerdekaan itu masih banyak tertunda".
Masih banyak peristiwa di media sosial dan berita nasional yang menunjukkan usaha-usaha terselubung untuk pembodohan dan pemiskinan masyarakat.
Masih ada usaha untuk menjajah masyarakat-masyarakat adat dan ruang kehidupan. Informasi-informasi jujur dari pejabat pemerintahan masih lemah.
Semakin banyak pejabat jatuh dalam tindak korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Kemerdekaan ekologis ibu pertiwi Indonesia sedang dipertaruhkan dengan frame pembangunan dan ketahanan energi.
Hal ini semakin diperparah dengan pesimisme dari akar rumput terhadap pejabat pemerintah yang dipilih sekali dalam 5 tahun.
Banyak yang sudah putus asa dan mencoba menyampaikan aspirasi, tetapi dibungkam dengan pelbagai cap.