


JAKARTA, iDoPress - Kebijakan pemerintah menetapkan pola kerja Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat membawa tantangan kesehatan baru meski tak harus repot pergi ke kantor seperti hari lainnya.
Meskipun bekerja dari rumah memberikan fleksibilitas waktu, lingkungan rumah yang tidak dirancang sebagai ruang kerja dapat memicu berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental bagi para ASN.
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Dosen Politeknik Bhakti Kencana, Fani Syafani, menilai bahwa rumah pada dasarnya bisa dijadikan tempat kerja, tetapi harus ada penyesuaian.
“Lingkungan rumah dapat dimodifikasi menjadi tempat bekerja dengan sebaiknya dapat memenuhi aspek Keselamatan Kesehatan Kerja dengan menerapkan Hirarki K3 dan memahami potensi risiko atau bahaya di area atau lingkungan rumah," kata Fani saat dihubungi iDoPress, Selasa (5/5/2026).
Kebiasaan bekerja di tempat tidur atau sofa sebaiknya dihindari karena tidak mendukung postur tubuh yang benar.
Penggunaan meja, kursi, dan posisi layar yang sesuai menjadi hal dasar yang seharusnya dipenuhi. Selain itu, pencahayaan ruangan juga tidak boleh diabaikan.
Ruang kerja sebaiknya cukup terang seperti kondisi ruang kerja pada umumnya agar mata tidak cepat lelah saat menatap layar dalam waktu lama.
Keluhan fisik seperti sakit leher dan punggung kerap dianggap wajar saat bekerja dari rumah.
Namun, menurut Fani, kondisi ini bisa menjadi masalah serius jika terus dibiarkan.
Posisi duduk yang tidak ergonomis, seperti membungkuk atau bekerja di kasur, serta minimnya peregangan saat bekerja, menjadi penyebab utama munculnya keluhan tersebut.
“Dalam jangka panjang dapat menyebabkan penekanan pada otot, tulang belakang dan syaraf," kata Fani.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih berat dan memengaruhi produktivitas kerja dalam jangka panjang.
Selain itu, Fani menilai bekerja dari rumah berarti berbagi ruang dengan aktivitas lain, termasuk keluarga.
Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki anak kecil, kondisi ini bisa menjadi sumber distraksi yang terus-menerus.
Jika tidak dikelola dengan baik, gangguan tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental.
“Apabila tidak dapat diantisipasi, dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan stress, akibat kurang fokus saat mengerjakan tugas sehingga target pekerjaan tidak dapat tercapai," katanya.
Beban kerja yang tidak diimbangi dengan istirahat cukup juga berisiko memicu kelelahan berkepanjangan atau fatigue.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada motivasi dan produktivitas kerja.
“Fatigue atau kelelahan menyebabkan seseorang tidak memiliki energi dan motivasi menurun," katanya.

Allianz Indonesia Working From Home (WFH) bisa menganggu work life balance bagi yang tidak terbiasa