Seni

Kasus Perundungan Siswa SMA di Bekasi Memanas, Sekolah Beberkan Alasan Tahan Video Permintaan Maaf

Apr 22, 2026 IDOPRESS
Kasus perundungan di SMAN 2 Bekasi antara EQ dan ANF makin rumit. Mediasi gagal, kedua belah pihak saling lapor ke polisi, dan video permintaan maaf tak sampai.

BEKASI, iDoPress – Kasus dugaan perundungan dan kekerasan yang melibatkan dua siswa SMAN 2 Kota Bekasi, EQ (17) dan ANF, masih bergulir dan belum menemukan titik terang.

Orangtua EQ, Eka Dini Amalia (46), mengaku telah memenuhi sejumlah permintaan sebagai syarat perdamaian.

Permintaan tersebut mencakup pembayaran sejumlah uang, pembuatan permintaan maaf dalam bentuk surat dan video, hingga menerima sanksi dari pihak sekolah.

Eka juga menyebutkan bahwa pihak sekolah sempat menyampaikan laporan kepolisian akan dicabut apabila EQ telah membuat pernyataan maaf.

Namun, hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, EQ justru menerima panggilan dari kepolisian untuk menjalani proses hukum.

Di sisi lain, orangtua ANF, Arfani (43), menyatakan bahwa video permintaan maaf tersebut tidak pernah diterima pihaknya.

“Sampai ke kami belum ada (videonya). Tidak dikirim sampai saat ini. Dan videonya pun juga enggak ada,” ujar Arfani kepada awak media, Selasa (22/4/2026).

Arfani mengungkapkan, pada awalnya ia bersedia menempuh jalur damai.

Namun, sikap tersebut berubah setelah anaknya dilaporkan atas dugaan perundungan.

“Awalnya saya sudah mau melakukan perdamaian dan mediasi. Tapi dengan adanya pemberitaan anak saya mem-bully, (kasusnya) biar dijalankan sesuai prosedur hukum,” ujarnya.

Ia juga menyatakan keberatan atas laporan yang dilayangkan keluarga EQ ke Polres Metro Bekasi Kota terkait dugaan pelanggaran perlindungan anak.

Menurut Arfani, ANF justru merupakan korban dalam peristiwa tersebut.

“Jadi sampai sekarang anak saya terus-menerus di-bully di media sosial. Sedangkan anak saya adalah korban pem-bullyan yang sebenarnya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Kota Bekasi, Suhendi, menyebut video permintaan maaf tersebut sebenarnya sudah dibuat, tetapi belum diserahkan kepada pihak ANF.

“Untuk video itu sudah ada di pihak sekolah, tetapi kesepakatannya akan diperlihatkan pada saat pertemuan kedua belah pihak. Jadi tidak ada pihak mana pun yang diberikan,” ujar Suhendi.