Seni

Pasar Santa Kalah Pamor dari Blok M, Pengunjung Sebut Tak Ada Ruang untuk Nongkrong Lama

Apr 22, 2026 IDOPRESS
Pasar Santa Jakarta Selatan sepi dikunjungi pembeli, kalah pamor dibanding kawasan seperti Blok M adalah ketiadaan ruang terbuka.

JAKARTA, iDoPress - Salah satu pengunjung asal Jakarta Selatan Hafiz (25), datang ke Pasar Santa pada akhir pekan dengan alasan nostalgia.

Ia pernah cukup sering menghabiskan waktu di tempat itu saat masih kuliah, ketika Pasar Santa dikenal sebagai salah satu titik kumpul anak muda Jakarta Selatan.

Namun, setelah lama tak berkunjung, ia merasa suasana yang ditemuinya kali ini berbeda jauh dibanding masa-masa ramai dulu.

“Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama,” kata Hafiz saat ditemui iDoPress, Selasa (21/4/2026).

Menurut Hafiz, Pasar Santa sebenarnya masih menyimpan elemen yang dulu membuatnya populer.

Tenan kopi, toko piringan hitam, hingga kios thrift masih ada dan bertahan. Namun, pengalaman ruang yang ia rasakan kini tidak lagi sama.

“Kalau isi sebenarnya masih ada ya. Kopi ada, vinyl juga masih, beberapa tempat foto juga ada. Tapi rasanya sekarang beda,” ujar dia.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Kios Action! yang menjual poster film vintage tertutup rapat, mempertegas minimnya aktivitas perdagangan di Pasar Santa Jakarta Selatan pada Selasa (21/4/2026).

Hafiz menilai, salah satu faktor utama yang membuat Pasar Santa kalah pamor dibanding kawasan seperti Blok M adalah ketiadaan ruang terbuka yang bisa menjadi tempat berkumpul.

Baginya, Pasar Santa lebih terasa seperti pasar dalam gedung yang tertutup, sehingga suasana keramaian sulit tercipta.

“Di Santa itu kan lebih seperti pasar dalam gedung. Tidak ada ruang terbuka yang besar, kafenya juga kecil-kecil di dalam kios,” kata Hafiz.

Ia membandingkan dengan Blok M yang lebih mudah membangun atmosfer hidup karena ruang publiknya lebih terbuka.

Di sana, orang bisa berjalan kaki, duduk di luar, berpindah dari satu titik ke titik lain, sekaligus menikmati keramaian.

Bagi Hafiz, Blok M saat ini lebih terasa sebagai destinasi, bukan sekadar tempat singgah. Keramaian di sana menciptakan efek domino yang membuat orang betah lebih lama.

Sebaliknya, Pasar Santa menurut Hafiz kini lebih sering terbaca sebagai pasar modern biasa.

Walaupun masih ada tenant kreatif, semuanya terasa terpecah di dalam gedung tanpa area komunal yang besar.

“Kalau Santa sekarang, jujur ya, lebih kayak pasar modern saja. Masih ada kopi, tapi kecil-kecil di dalam,” ujar dia.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Toko Sederhana di Pasar Santa Jakarta Selatan yang menjajakan barang pecah belah tampak menumpuk stok dagangannya di area terbuka tanpa ada pembeli yang datang, Selasa (21/4/2026).

Ia menilai, karena ruangnya tertutup dan tidak ada area terbuka yang menjadi pusat aktivitas, pengunjung cenderung tidak bertahan lama. Orang datang, membeli sesuatu, melihat-lihat sebentar, lalu keluar.

“Jadi orang datang, beli, lihat-lihat, habis itu keluar. Tidak ada tempat buat benar-benar nongkrong lama,” kata Hafiz.

Hafiz menegaskan, persoalan Pasar Santa bukan terletak pada kualitas tenant. Ia masih melihat beberapa kios memiliki konsep yang menarik.

Namun, pengalaman ruang yang tidak mendukung membuat suasana Pasar Santa sulit berkembang sebagai destinasi anak muda.

“Bukan berarti tenant-nya jelek ya. Masih ada yang bagus. Tapi pengalaman ruangnya itu yang beda,” ujar Hafiz.

Bagi Hafiz, Blok M berhasil membentuk pengalaman “wisata anak muda” yang lebih jelas, sementara Pasar Santa kehilangan positioning.

“Blok M itu dari awal sudah terasa seperti tempat tujuan. Santa sekarang lebih seperti tempat lewat,” kata Hafiz.

Pengunjung lain, Andra (27), karyawan swasta, juga mengaku kini jarang datang ke Pasar Santa.

Ia menyebut kunjungannya hanya terjadi sesekali, terutama ketika ingin nostalgia atau ada teman yang mengajak.

“Enggak sering sih sekarang. Paling kalau lagi lewat atau lagi pengin nostalgia aja. Dulu sekitar 2016–2019 saya cukup sering ke sini, hampir tiap minggu,” kata Andra.

Ia masih mengingat masa ketika Pasar Santa terasa hidup, meski bukan keramaian yang bising.

Dulu, menurut Andra, suasana di sana punya vibes yang sangat berbeda. Tempatnya ramai, tetapi bukan keramaian yang bising.

Justru terasa lebih hidup, dengan orang-orang mengantre kopi, musik yang sesekali terdengar, serta deretan tenant unik yang membuat kawasan itu semakin menarik.

Namun kini, menurut Andra, perubahan tenant yang cepat dan banyak kios tutup membuat pengunjung kehilangan tujuan spesifik.

Jika dulu ia sudah hafal harus mampir ke kios tertentu, sekarang banyak yang sudah tutup atau pindah.

“Sekarang lebih sepi, itu jelas. Terus tenant juga banyak yang berubah-ubah. Dulu kan sudah hafal mau ke mana, sekarang agak bingung karena beberapa tutup atau pindah,” kata dia.

Andra menilai Blok M saat ini lebih menarik karena kawasan itu terasa lebih rapi dan dinamis. Banyak tempat baru bermunculan, sehingga pengunjung selalu punya alasan untuk kembali.

“Kalau Blok M sekarang lebih hidup sih. Saya juga sering ke sana. Lebih rapi, lebih banyak pilihan baru, dan selalu ada hal yang bikin orang balik lagi,” ujar Andra.

Vivian (23), mahasiswi yang datang bersama temannya, juga mengaku merasakan kesan serupa. Ia sudah beberapa kali datang ke Pasar Santa sejak 2022, tetapi tidak rutin.

Ia mengatakan, kunjungan kali ini membuatnya merasa Pasar Santa semakin sepi dibanding sebelumnya.

Vivian datang karena ingin mencari tempat yang berbeda dari coffee shop biasa. Ia penasaran dengan cerita Pasar Santa sebagai tempat anak kreatif. Namun, setelah tiba, ia merasa suasana yang ditemuinya tidak sesuai ekspektasi.

“Tapi sekarang beberapa lantai ada yang kosong, jadi kesannya kurang hidup,” ujar dia.