

JAKARTA, iDoPress - Pak Idris (68) sudah menggantungkan hidupnya dari berjualan koran di jalanan Jakarta sejak tahun 1976.
Hampir setengah abad berlalu, di tengah era yang serba digital, dia tetap setia menapakkan kakinya di ibu kota untuk menjual koran.
Pria lanjut usia asal Bekasi Timur, Jawa Barat, ini bercerita bahwa dia memulai harinya sejak pagi dengan menaiki KRL menuju Jakarta.
"Rumah di Bekasi Timur. Ke sini naik kereta pagi-pagi," ujar Pak Idris saat ditemui iDoPress di akses masuk Stasiun LRT Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (4/6/2028).
Setibanya di ibu kota, sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, Pak Idris mulai menawarkan koran kepada para pekerja dan orang-orang yang berlalu lalang di area Sudirman.
Setelah itu, dia mengayuh sepeda tua yang dititipkan di Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, untuk menuju lokasi kedua tempat dia berjualan koran.
Lokasinya berada tepat di akses masuk Stasiun LRT Rasuna Said.
"Ke sini naik sepeda. Itu (sepedanya) ditaruh di Stasiun Sudirman," kata Pak Idris.
Pak Idris biasanya duduk tak jauh dari pintu akses keluar stasiun LRT yang juga terhubung langsung dengan Halte Transjakarta.
Titik ini dia manfaatkan untuk menjangkau para penumpang yang baru turun dari moda transportasi umum. Kemudian, dia berjualan hingga pukul 10.30 WIB.

Thalita Dewanty/iDoPress Sepeda Pak Idris (68) penjual koran di Kawasan Sudirman dan Rasuna Said tampak terlihat di depan Stasiun LRT Rasuna Said Selasa (4/8/2026).
Harga koran yang dia jual dibanderol mulai dari Rp 12.000 per eksemplar.
Pak Idris mengaku sengaja memilih Jakarta daripada berjualan di dekat rumahnya karena sudah terbiasa dengan ritme ibu kota sejak puluhan tahun lalu.
"Udah lama dagang di sini, di Jakarta. Paling kalau di Bekasi kurang-kurang aja (peminatnya)," tutur Pak Idris.
Namun, perubahan zaman memang tidak bisa dihindari.
Pak Idris merasakan betul bagaimana pergeseran ke media digital membuat jumlah pembeli koran fisik merosot tajam dibandingkan dulu.