Ai

Pendapatan Belum Stabil, Kebutuhan Terus Datang: Cerita Pekerja Muda Andalkan PayLater

Jul 18, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress -Pendapatan belum stabil, kebutuhan kerja yang datang bersamaan, hingga biaya hidup yang terus meningkat membuat layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater kian menjadi pilihan bagi pekerja muda.

Bagi sebagian orang, PayLater bukan lagi sekadar alat untuk memenuhi gaya hidup, melainkan menjadi penyangga arus kas ketika penghasilan belum mampu mengimbangi kebutuhan yang harus dipenuhi saat itu juga.

Ilham (24), seorang karyawan swasta di Jakarta Timur, misalnya, mengaku telah menggunakan layanan PayLater salah satu aplikasi selama dua tahun terakhir.

Saat dihubungi iDoPress melalui telepon, Kamis (16/7/2026), ia menegaskan bahwa keputusannya menggunakan PayLater bukan karena kesulitan ekonomi.

"Sebenarnya awalnya bukan karena ekonomi keluarga lagi susah. Orangtua saya masih bekerja dan kondisi keluarga bisa dibilang cukup. Saya sendiri juga sudah kerja sebagai staf administrasi dengan gaji sekitar Rp5 jutaan," ujar Ilham.

Ia bercerita, laptop lamanya rusak tepat ketika ia mulai bekerja. Pada saat bersamaan, ia juga harus membeli pakaian dan sepatu kerja.

"Daripada langsung keluar uang banyak, saya pilih pakai PayLater," katanya.

Dalam sekali transaksi, Ilham biasanya memanfaatkan limit sekitar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.

Barang yang dibeli sebagian besar merupakan kebutuhan kerja, salah satunya perangkat elektronik. Sesekali ia juga menggunakan PayLater untuk membeli tiket pulang kampung.

"Saya hampir enggak pernah pakai buat hal yang benar-benar konsumtif kayak nongkrong atau jajan," kata dia.

Setiap bulan ia mencicil sekitar Rp 700.000 hingga Rp 1 juta. Menurut dia, PayLater lebih berfungsi sebagai alat untuk mengatur arus kas dibandingkan mencari tambahan uang.

"Kalau ditanya kenapa enggak nabung dulu, ya kadang kebutuhan datangnya mendadak. Buat saya PayLater itu lebih ke alat bantu ngatur cash flow. Yang penting saya selalu hitung dulu cicilannya masih masuk sama gaji atau enggak,” tutur Ilham.

Menopang kebutuhan di tengah biaya pendidikan

Cerita serupa datang dari Wulan (25), pekerja digital marketing yang juga sedang menempuh pendidikan magister di Jakarta Selatan.

Ia menggunakan salah satu aplikasi PayLater untuk membantu memenuhi kebutuhan ketika pengeluaran kuliah menguras tabungannya.

"Saya kerja full time sebagai digital marketing, terus malam masih kuliah S2. Penghasilan saya sebenarnya cukup buat kebutuhan sehari-hari, tapi karena kuliah juga lumayan menguras tabungan, saya sesekali pakai PayLater," kata Wulan saat dihubungi.

Padahal, secara ekonomi keluarganya tergolong berkecukupan. Orangtuanya bahkan masih bersedia membantu apabila ia membutuhkan biaya tambahan.

"Tapi saya dari awal pengin belajar mandiri. Orangtua bilang kalau masih kurang boleh minta, cuma saya lebih nyaman mengatur sendiri. Jadi kalau ada kebutuhan yang mendadak, saya pakai PayLater daripada langsung minta ke orangtua,” ucap dia.

Nilai cicilan yang diambil berkisar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli telepon genggam baru setelah perangkat lamanya rusak, serta memenuhi kebutuhan perlengkapan kuliah.

Ia mencicil sekitar Rp 900.000 setiap bulan selama beberapa bulan. Meski demikian, Wulan berusaha membatasi penggunaan PayLater agar tidak menjadi kebiasaan.

"Saya selalu mikir dulu sebelum klik. Kalau memang enggak benar-benar butuh, ya enggak saya ambil,” kata dia.

Freelancer mengandalkan PayLater saat proyek belum cair

Bagi pekerja lepas, fungsi PayLater bahkan lebih terasa sebagai penyangga pendapatan yang tidak menentu.

Alion (27), freelancer desain grafis di Jakarta Selatan, mengaku menggunakan salah satu aplikasi PayLater karena penghasilannya sangat bergantung pada proyek yang datang.

"Kalau saya beda. Saya freelance desain grafis, jadi pemasukan kadang banyak, kadang sepi. Nah, PayLater itu sering jadi penyelamat pas proyek lagi belum cair,” ujar Alion saat dihubungi.

Ia berasal dari keluarga sederhana dengan orangtua yang telah pensiun. Karena itu, ia memilih membiayai seluruh kebutuhannya sendiri.