
JAKARTA, iDoPress - Konten kreator Ferry Irwandi menegaskan bahwa gelombang demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025 murni digerakkan oleh keresahan masyarakat, bukan dipicu oleh unggahan editan "timpa teks" di media sosial.
Hal tersebut disampaikannya saat dihadirkan sebagai saksi meringankan dalam sidang lanjutan kasus dugaan manipulasi informasi elektronik Khariq Anhar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).
Di hadapan majelis hakim, Ferry menyampaikan, demo yang terjadi saat itu diinisiasi beragam kelompok elemen masyarakat, mulai dari komunitas ojek online, buruh, hingga mahasiswa yang memiliki keresahan serupa.
"Sangat scattered (tersebar), sangat organik. Kebanyakan itu muncul dari kelompok-kelompok yang memang mengekspresikan ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap pemerintah. Dan itu bukan cuma terjadi di aksi di lapangan, tapi juga di media sosial," ujar Ferry di ruang sidang PN Jakarta Pusat, Senin.
Ferry, yang turut serta dalam aksi demonstrasi di sejumlah titik pada tanggal 25, 28, 29 Agustus, hingga 1 September 2025, juga bersaksi bahwa kehadirannya di lapangan adalah murni atas inisiatif pribadi.
Ia membantah tuduhan persidangan yang menyebut bahwa poster editan dari akun Instagram Khariq memprovokasi dirinya maupun masyarakat luas untuk mengikuti aksi.
Termasuk, kata Ferry, banyaknya pengguna media sosial Instagram yang memberikan "suka" pada unggahan Khariq, merupakan bentuk adanya keresahan yang sama sengan isu yang disampaikan Khariq melalui meme satire.
"Pribadi. Karena saya bagian dari kelompok masyarakat sendiri dan saya tidak melihat postingan tersebut bisa membuat saya atau memprovokasi diri saya untuk turun ke jalan, karena tidak ada hubungannya sama sekali," jelas Ferry.
Dalam sidang, Khariq Anhar juga dituduh memprovokasi masyarakat melakukan demonstrasi hingga terjadi kemacetan di berbagai ruas jalan Jakarta.
Kemacetan itu pun dituding merupakan kesalahan Khariq sebagai pengunggah editan timpa teks dan berdampak pada kerugian materil maupun immateril banyak orang.
Ferry pun menyebut kemacetan adalah hal yang sangat lumrah terjadi dan hampir selalu terjadi di setiap ada demonstrasi apapun.
"Setahu saya, tanpa aksi demo pun di Jakarta semua titik juga sudah macet. Jadi kalau menyalahkan kemacetan karena postingan saudara Khariq, itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal buat saya," ucap Ferry.
"Sangat lumrah (terjadi kemacetan), bahkan justru aneh ketika ada aksi, tapi kemacetan tidak terjadi. Saya tidak pernah lihat itu bahkan," sambung dia.
Menurut Ferry, editan visual berupa "timpa teks" pada sebuah berita merupakan bagian dari kultur internet masa kini sebagai sebuah meme satire, bukan hoaks.
Ia menilai editan yang dilakukan oleh Khariq sangat terlihat jelas bukan asli dan sama sekali tidak memiliki niat untuk mengelabui publik.