Ai

Ekonom: Pedagang Cupang Keliling Jakarta Bertahan di Tengah Ketatnya Lapangan Kerja

Jul 4, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Bagi sebagian warga, terutama anak-anak, kehadiran pedagang cupang keliling menjadi pemandangan yang akrab.

Namun di balik aktivitas sederhana itu, ada cerita tentang sempitnya lapangan kerja, mahalnya biaya hidup kota, dan upaya masyarakat bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agung Satria Permana, menilai bertahannya pedagang cupang keliling di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar kerja perkotaan yang semakin kompetitif.

Menurut Agung, usaha kecil seperti pedagang ikan cupang keliling merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap tekanan ekonomi di perkotaan.

“Persaingan di pasar kerja yang semakin ketat, terbatasnya penciptaan lapangan pekerjaan, serta biaya hidup yang terus meningkat membuat sebagian masyarakat menggantungkan sumber penghasilan di sektor informal,” kata Agung saat dihubungi iDoPress, Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, sektor informal menjadi pilihan realistis bagi banyak warga yang kesulitan masuk ke pekerjaan formal, baik karena keterbatasan pendidikan, usia, maupun minimnya peluang kerja yang tersedia.

Pendapatan dari berjualan ikan cupang memang tidak selalu stabil dan secara nominal tidak besar.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah ikan hias dipajang dalam kantong plastik oleh pedagang keliling untuk menarik minat pembeli di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).

Namun bagi rumah tangga pelakunya, penghasilan tersebut dapat menjadi sumber pemasukan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Pendapatan dari berjualan ikan cupang memang tidak selalu stabil dan mungkin tidak besar secara nominal. Namun, bagi rumah tangga pelakunya penghasilan tersebut bisa menjadi sumber pemasukan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Agung.

Bagi banyak pedagang, berjualan cupang bukan pilihan ideal, melainkan jalan bertahan.

Modal yang relatif kecil membuat usaha ini lebih mudah dimasuki dibanding membuka toko atau usaha skala besar.

Selain itu, cupang memiliki pasar yang unik dan cenderung stabil.

Agung menilai, hobi memelihara atau mengoleksi ikan cupang merupakan fenomena yang terus berulang antargenerasi, terutama di kalangan anak-anak.

“Sebagian besar anak mungkin pernah merasakan ketertarikan untuk memiliki ikan cupang. Namun, seiring bertambahnya usia hanya sebagian kecil yang kemudian mempertahankan hobi tersebut,” kata dia.

Fenomena tersebut menciptakan pasar yang terus beregenerasi.

Ketika satu generasi tumbuh dewasa dan meninggalkan hobi masa kecilnya, generasi anak-anak berikutnya muncul sebagai pasar baru.

Menurut Agung, anak-anak umumnya belum mampu menjangkau toko ikan hias modern ataupun platform digital seperti marketplace untuk membeli ikan cupang secara mandiri.

Ruang itulah yang diisi oleh pedagang cupang keliling.

“Pedagang ikan cupang keliling biasanya hadir langsung di lingkungan tempat anak-anak beraktivitas sehingga anak-anak dapat melihat ikan secara langsung, memunculkan ketertarikan, dan akhirnya mendorong keputusan untuk membeli,” ujar Agung.

Kehadiran pedagang keliling membuat proses pembelian menjadi lebih spontan.

Anak-anak yang melihat ikan berwarna cerah dengan sirip mengembang sering kali langsung tertarik, lalu meminta orang tua untuk membelikannya.

Hobi Murah di Tengah Biaya Hidup Mahal

Agung menilai, mahalnya biaya hidup di Jakarta memang membuat masyarakat lebih selektif membelanjakan uang.

Namun, kebutuhan akan hiburan dan hobi tidak serta-merta hilang.

Menurut dia, ikan cupang menjadi salah satu alternatif hiburan yang relatif murah.

“Di tengah biaya hidup yang semakin mahal, orang mungkin akan lebih selektif dalam membelanjakan uang. Namun, mereka tetap membutuhkan hiburan atau aktivitas hobi yang tidak terlalu membebani keuangan,” kata Agung.

Ia menjelaskan, memelihara ikan cupang bisa menjadi pilihan karena harga jualnya relatif terjangkau dan perawatannya tidak terlalu rumit.

Berbeda dengan ikan hias lain yang membutuhkan akuarium besar, filter, atau biaya perawatan mahal, cupang dapat dipelihara dalam wadah sederhana.