Ai

“Bu, Aku Bisa Sekolah Lagi Enggak?” Ketika Kemiskinan Merampas Masa Depan Anak Jakarta

Jun 25, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Di usia ke-499 yang kian dekat dengan tonggak lima abad, Jakarta terus menampilkan wajah kota metropolitan yang modern dengan gedung-gedung tinggi, transportasi publik yang terintegrasi, dan pembangunan yang terus bergerak.

Namun, di balik gemerlap itu, masih ada ironi yang belum selesai, sebagian anak Jakarta belum benar-benar menikmati hak paling mendasar mereka, yakni pendidikan.

Bagi sebagian anak Jakarta, sekolah bukan sekadar soal ruang kelas, guru, atau buku pelajaran.

Pendidikan kerap kalah oleh kebutuhan paling dasar, bertahan hidup hari ini.

Di gang-gang sempit kawasan Petamburan, kemiskinan membuat bangku sekolah perlahan menjauh dari kehidupan anak-anak.

Di sebuah gang padat di Petamburan, Rani (38) memulai hari dengan mengangkat karung besar untuk memulung.

Sudah hampir delapan tahun ia menjalani hidup sebagai pemulung setelah suaminya pergi dan tidak pernah kembali.

Sejak itu, seluruh beban keluarga bertumpu di pundaknya seorang diri.

Namun, beban terberat bagi Rani bukan sekadar mencari makan setiap hari.

Beban terbesarnya adalah menyaksikan kedua anaknya kehilangan sekolah.

Suatu hari, pertanyaan dari putra sulungnya, Fattah (16), menghantam batinnya.

“Fattah sering nanya, ‘Bu, aku bisa sekolah lagi enggak?’” ujar Rani saat ditemui iDoPress, Selasa (23/6/2026).

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya. Sebagai seorang ibu, Rani mengaku tidak pernah ingin anak-anaknya bekerja, apalagi sampai putus sekolah.

Ia paham pendidikan adalah satu-satunya jalan agar anak-anaknya memiliki hidup lebih baik daripada dirinya.

“Sebenarnya saya enggak mau mereka kerja,” katanya lirih.

Namun realitas hidup sering kali tidak menyediakan banyak pilihan.

Menurut Rani, alasan anak-anaknya berhenti sekolah sangat sederhana, kemiskinan.

“Karena keadaan. Mau gimana lagi? Makan aja kadang susah,” ujar dia.

Ia mengatakan sekolah yang disebut gratis tetap menyimpan banyak biaya tidak terlihat yang memberatkan keluarga miskin.

“Sekolah memang katanya gratis, tapi kebutuhan lain banyak. Seragam, buku, ongkos, jajan minimal. Belum kalau ada kegiatan sekolah,” tutur dia.

Rani pernah berpikir memasukkan anak-anaknya kembali ke sekolah.

Namun langkah pertama saja sudah terasa berat. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

“Tapi saya bingung mulai dari mana. Urus berkas, waktu juga susah. Saya kerja dari pagi sampai sore,” ucap dia.

Rani mengaku pernah menerima bantuan sembako dari pemerintah.

Namun untuk bantuan pendidikan, ia belum memahami prosedurnya.

Saat ditanya bagaimana rasanya melihat anak-anaknya tidak lagi sekolah, Rani terdiam cukup lama.

“Saya mulung begini juga sebenarnya biar anak bisa hidup lebih baik dari saya,” kata Rani.

Harapan itu rupanya masih hidup dalam rumah kecil mereka.

Fattah, anak sulung Rani, kini tidak lagi memulai pagi dengan mengenakan seragam sekolah.

Sebagai gantinya, ia membantu sang ibu memulung kardus, botol plastik, dan barang bekas untuk dijual ke pengepul.

Padahal beberapa tahun lalu, Fattah masih duduk di bangku sekolah.

Namun keadaan ekonomi keluarga membuat sekolah tidak lagi menjadi rutinitas hariannya.

Awalnya, ia sering absen karena hal-hal yang bagi keluarga lain mungkin tampak sepele.

“Awalnya sering enggak masuk. Soalnya kadang pagi saya belum sempat mandi atau baju belum kering. Sepatu juga sudah rusak. Lama-lama ketinggalan pelajaran,” kata Fattah.

Seiring waktu, absensi yang terus menumpuk berubah menjadi putus sekolah.

Ia pun mulai membantu ibunya hampir setiap hari.

“Terus Ibu juga butuh bantuan. Kalau saya ikut, mulungnya lebih cepat,” ujar dia.

Meski berusaha terlihat tegar, Fattah mengaku sedih saat akhirnya berhenti sekolah.

Awalnya, ia mengira hanya berhenti sementara. Namun hari demi hari berlalu, dan ia tidak pernah kembali ke kelas.

“Sedih sih. Awalnya saya pikir cuma berhenti sebentar. Ternyata sampai sekarang belum balik lagi,” kata Fattah.

Kerinduan terhadap sekolah rupanya belum hilang. Yang paling ia rindukan bukan sekadar pelajaran, melainkan teman-temannya.

“Iya… kangen teman. Kangen main bola pas istirahat,” kata dia.

Di usia 16 tahun, Fattah masih menyimpan harapan untuk kembali belajar. Namun harapan itu dibayangi rasa takut.

“Iya saya masih ingin sekolah, tapi takut juga, takut kalau saya yang paling tua di kelas,” ujar dia.

Meski begitu, ketika ditanya apakah ia mau kembali sekolah jika diberi kesempatan, jawabannya tegas.

“Mau. Banget,” tutur dia.

Fattah bahkan masih menyimpan cita-cita sederhana, menjadi montir, karena ia senang membongkar sepeda. Nasib serupa dialami adiknya, April (10).

Gadis kecil itu juga tidak lagi bersekolah dan kini membantu ibunya memilah barang bekas di rumah.

Tugasnya sederhana, memisahkan botol plastik, melipat kardus, dan membantu pekerjaan ringan lainnya.

Namun rutinitas itu telah menggantikan hari-harinya sebagai murid sekolah dasar.

April terakhir bersekolah hingga kelas 2 SD.