Ai

Psikolog Sebut Suara Peluit Pedagang Mainan Bisa Picu Emotional Memory Masa Kecil

May 6, 2026 IDOPRESS
Suara peluit pedagang mainan keliling membangkitkan nostalgia masa kecil. Di balik kenangan manis, ada psikologi kuat dan perjuangan ekonomi informal yang menopang kota.

JAKARTA, iDoPress - Suara peluit khas pedagang mainan keliling masih terdengar di sejumlah sudut kota, dari kawasan Pasar Senen hingga Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dan kepadatan pejalan kaki, bunyi nyaring itu seperti menyelinap di antara rutinitas orang dewasa yang bergegas bekerja atau berbelanja.

Bagi sebagian orang, peluit itu bukan sekadar penanda kehadiran pedagang mainan.

Ia menjadi pemantik ingatan masa kecil yang muncul tiba-tiba, bahkan ketika seseorang sudah lama tidak membeli mainan di jalanan.

Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Pokja Keswa Kemenkes RI, Ratih Ibrahim, mengatakan suara peluit pedagang mainan keliling dapat menjadi pemicu emosi mendadak karena berkaitan dengan cara otak menyimpan memori masa kecil.

Ia menjelaskan, pengalaman masa kecil biasanya terekam bersama emosi yang kuat.

Karena itu, stimulus sensorik seperti suara, bau, atau warna memiliki jalur cepat menuju bagian otak yang mengatur emosi, termasuk amygdala dan hippocampus.

“Suara peluit pedagang mainan bisa menjadi salah satu trigger yang langsung mengaktifkan ingatan lama. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pengalaman masa kecil ini biasanya berkaitan dengan emosi yang kuat, serta biasanya stimulus sensorik (suara, bau, warna) memiliki jalur cepat ke bagian otak yang mengatur emosi,” kata Ratih saat dihubungi iDoPress, Selasa (5/5/2026).

Ratih menyebut reaksi emosional itu dapat muncul bahkan sebelum seseorang mengingat peristiwa secara detail.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional memory, yakni ingatan emosional yang masih hidup meski detail peristiwanya memudar.

Ratih menambahkan, stimulus yang familier, terutama jika suaranya sama persis dengan masa kecil, bisa membuat emosi muncul lebih dulu sebelum kesadaran seseorang menyusun ingatan secara runtut.

Fenomena tersebut juga termasuk bentuk nostalgia sensorik, yakni kondisi ketika memori masa lalu dipanggil kembali melalui rangsangan indra tertentu.

Ratih mengatakan nostalgia sensorik bisa dipicu bukan hanya oleh suara, tetapi juga aroma, warna, hingga visual benda tertentu.

Mekanismenya serupa, satu stimulus kecil dapat membuka rangkaian pengalaman masa lalu yang tersimpan.

Ia menegaskan nostalgia bukan sekadar ingatan, tetapi juga perasaan hangat dan kerinduan pada masa tertentu, termasuk pada suasana yang dulu dianggap sederhana namun menyenangkan.

Ratih juga menilai nostalgia dapat berbeda bentuknya pada tiap generasi.

Generasi 1990-an dan awal 2000-an, kata dia, cenderung memiliki nostalgia yang dipicu pengalaman fisik di lingkungan sekitar, sementara generasi anak sekarang lebih banyak menyimpan memori digital dari gawai dan konten online.

“Sangat mungkin ada perbedaan antara generasi satu dengan yang lainnya, namun bukan berarti satu generasi lebih bernostalgia dari yang lain. Perbedaannya lebih kepada jenis stimulusnya dan cara pengalamannya dibentuk,” ujar Ratih.

Ratih menilai, bukan berarti nostalgia semakin hilang, tetapi pemicunya berubah mengikuti perkembangan zaman.

Jika dulu suara pedagang mainan keliling bisa menjadi pemanggil memori, maka bagi anak sekarang, nostalgia bisa terbentuk dari musik viral, gim, atau video yang mereka tonton berulang kali.

Lebih jauh, Ratih menjelaskan nostalgia yang kuat dapat memengaruhi perilaku konsumsi orang dewasa.

Ia mengatakan keputusan membeli mainan untuk anak sering kali bukan semata kebutuhan, tetapi karena dorongan emosional untuk mengulang pengalaman masa kecil.

Menurut Ratih, fenomena ini dikenal sebagai nostalgia-driven consumption, yakni konsumsi yang dipengaruhi emosi dan kenangan.

“Untuk menghadirkan kembali kenangan tersebut, orang yang telah dewasa bisa saja membeli mainan untuk anak atau bahkan bagi dirinya sendiri. Dalam psikologi konsumen, fenomena ini dikenal sebagai nostalgia-driven consumption,” kata Ratih.

Ia mencontohkan nostalgia juga membentuk tren bisnis retro, bukan hanya pada mainan, tetapi juga musik, fashion, hingga makanan.

Unsur sentimental yang dibangun ulang secara sadar, menurutnya, ikut memperkuat pasar.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Pedagang mainan keliling yang masih bisa ditemui di stasiun dan gang warga, Selasa (5/5/2026).Bertahan di Trotoar Jakarta, dari Senen hingga Pasar Baru

Di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, pedagang mainan keliling masih menjadi bagian dari pemandangan jalanan.Ahmad Fauzi (46), pedagang mainan yang sudah berjualan sekitar 15 tahun, memilih bertahan di area trotoar karena arus manusia yang tidak pernah sepi.Ahmad mengaku Senen menjadi titik strategis karena dipenuhi keluarga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari.Ia menjual balon karakter, pistol air, mainan kereta kecil, boneka gantungan, hingga gelembung sabun.Menurut Ahmad, pembeli terbesar bukan anak-anak, melainkan orangtua.Anak biasanya hanya meminta, sementara keputusan membeli tetap di tangan orang tua.“Di Senen itu orangtua belanja, anak rewel, akhirnya mainan jadi solusi cepat biar anak tenang,” ujar Ahmad.